Home Daerah Pengerjaan Jalan Tani Cangkodidi Desa TanaKaraeng Menuai Sorotan

Pengerjaan Jalan Tani Cangkodidi Desa TanaKaraeng Menuai Sorotan

849
7
SHARE
Pengerjaan Jalan Tani Cangkodidi Desa TanaKaraeng Menuai Sorotan

Pengerjaan Jalan Tani Cangkodidi Desa TanaKaraeng Menuai Sorotan
Juli 7, 2020  
Makassar Global.Com Gowa- Pengerjaan perintisan jalan tani Cangkodidi antara Dusun Bilampang dan Dusun Manyampa Desa TanaKaraeng Kecamatan Manuju Kab Gowa, kini menuai sorotan warga Desa.

Pasalnya, pendanaan perintisan jalan tani yang menggunakan anggaran Dana Desa sebesar Rp 165.869.600 diduga tidak sesuai RAB. Contohnya upah pekerja sebesar Rp 118.000 per hari, namun yang diberikan terhadap pekerja hanya Rp 80.000 sehari.

Di dalam RAB juga tercatat total upah pekerja sebanyak Rp 45.909.000 dengan estimasi 354 hari orang kerja (HOK), tetapi hanya 30 orang dipekerjakan selama dua hari.
Begitu pun biaya pengadaan alat berat Exapator sebesar Rp 102.000.000, namun yang dipakai membayar hanya 25 juta, dan yang lain-lain.

Diketahui bahwa, perintisan jalan tani sepanjang 2.700 meter dengan lebar 6 meter ini, dikerjakan pada tanggal 20/04/2020 oleh Kepala Dusun (Kadus) Manyampa Samsuddin Daeng Manye selaku tim pelaksana kegiatan (TPK).

Saat dikonfirmasi kebenarannya, Samsuddin Daeng Manye menyebutkan bahwa, perintisan jalan tani yang dia kerjakan menggunakan alat berat dan buruh kurang lebih 20 orang, dan dikerjakan selama 20 hari.

“Jalan itu kami kerjakan menggunakan alat berat kurang lebih 20 hari, dan kami juga melibatkan buruh sekitar 20 orang per hari dan digaji Rp100.000 sehari. Tetapi saya sudah lupa berapa sewa alatnya, karena datanya (LPJ) kami sudah serahkan semua ke bendahara Desa”, kilahnya (4/7/2020).

Padahal sebelumnya, Baktionline sempat menemui Kadus Bilampang (Hamsa Daeng Tompo), termasuk juga warga yang perna dilibatkan. Daeng Tompo menyebutkan bahwa, jalan tani ini dikerjakan hanya dua hari, dan melibatkan 15 orang buruh per hari.

“Total buruh yang digunakan hanya 30 orang selama dua hari dengan upah Rp 80.000 per hari. Jadi kalau dihitung hanya Rp 2.400.000 dana buruh yang terpakai.
Itu pun di hari pertama dan hari kedua beda orangnya”, ungkap Daeng Tompo.

Senada dengan Kadus Bilampang, Saeni Daeng Ngalli salah satu warga yang perna dilibatkan dalam perintisan jalan tani ini mengaku hanya digaji Rp 80.000 sehari.

“Iye, saya dipanggil masuk kerja pada hari kedua sekaligus hari terahir dan digaji 80 ribu”, tuturnya.

Selain buruh, Baktionline juga menghubungi pemilik alat (Exapator) yang perna digunakan. Daeng Sempo mengatakan, alatnya hanya disewa setengah bulan (15 hari) dengan bayaran 25 juta.

“Waktu itu, alat saya dikontrak setengah bulan dan sewanya 25 juta, itu pun hanya 10 hari saya kerja”, jawab Daeng Sempo lewat telepon seluler.

Menanggapi hal itu, bendahara Desa dan Sekdes TanaKaraeng mengaku belum menerima laporan pertanggung jawaban dari TPK Dusun Mannyampa. “Data laporannya belum ada sama saya”, katanya.

Padahal, sesuai surat edaran Menteri Desa pembangunan daerah tertinggal dan transmigrasi no 8 tahun 2020 tentang Desa tanggap Covid-19.
Disitu diatur bahwa Dana Desa dimaksimalkan dan digunakan untuk pencegahan dampak virus corona lewat program Padat Karya Tunai Desa (PKTD) agar kegunaannya bisa dirasakan masyarakat secara menyeluruh. 

Laporan: TIM MG

Editor: Hermansyah