“NAJAMUDDIN DAENG SERANG: Di Tengah Gaduh Kursi Bupati Gowa, Seorang Jurnalis Memilih Menjadi Cahaya”

Gowa-makassarglobal.com.-“Ada wartawan yang menulis untuk hidup. Ada pula yang hidup untuk menulis. Najamuddin Daeng Serang adalah Sosok Pimpinan Redaksi Media Bom Waktu.Com.

Di saat panggung politik Gowa memanas, di saat manuver kasar dan ambisi telanjang hendak merebut kursi Bupati dengan segala cara, seorang lelaki kurus dengan kaos hitam lengan panjang usang dan celana 3/4 coklat yang nyeker di lumpur sawah justru mengajarkan arti keteguhan yang sesungguhnya.

“Najamuddin Daeng Serang. Wartawan. Penulis. Aktivis Pejuang.”

Tiga kata itu bukan gelar yang ditempel. Itu adalah jejak kaki di pematang. Jejak yang kecil, kurus, tapi dalam. Seperti betis petani yang tak pernah lelah menginjak lumpur, seperti telapak kaki kecil yang tahu betul ke mana harus melangkah.

> “Perjalanan perjuangan tidak selalu bertabur kemudahan. Ada rintangan yang harus dilalui, ada ujian yang harus dihadapi, dan ada keyakinan yang harus tetap dijaga.”

Filosofi itu yang ia pegang. Ketika politik dipertontonkan dengan cara-cara kasar, ketika kursi kekuasaan ingin diambil alih dengan kebisingan, bukan dengan karya, Najamuddin memilih jalan sunyi seorang jurnalis: ‘berpikir optimistis, bergerak dinamis, dan pantang menyerah.”

Seorang jurnalis tangguh bukanlah mereka yang paling keras berteriak di podium. Ia adalah mereka yang paling setia menjaga idealisme ketika semua orang tergoda untuk menjualnya.

Ia tak ubahnya mesin “Kubota RD-110 DI Diesel Solar” itu. Tua, berdebu, kena lumpur, tapi tidak pernah mogok. Irit, tangguh, dan terus mengairi sawah kehidupan. Bukan bensin yang mudah terbakar emosi, tapi solar – berat, pelan, tapi kekuatannya menggerakkan sawah satu kabupaten.

Untuk Dinda Najamuddin,

Teruslah melangkah. Jadikan pengalaman sebagai guru, tantangan sebagai kekuatan, dan harapan sebagai energi.

Di tengah polemik politik yang ingin merebut kursi Bupati Gowa dengan cara kasar, kehadiranmu adalah pengingat: bahwa kekuasaan sejati tidak direbut, ia ditanam. Seperti padi di sawah Gowa Butuh lumpur, butuh kesabaran, butuh kaki yang nyeker.

Jejak seorang pejuang tidak diukur dari panjangnya perjalanan, tapi dari nilai dan manfaat yang ditinggalkan bagi sesama.

Sehatki selalu, Dinda. Teruslah menulis, teruslah bergerak, teruslah menyalakan cahaya optimisme di Butta Gowa yang kita cintai.

Salam hormat, salam persaudaraan, salam perjuangan.”-“(Red)”

Penulis MZ.Nurdin Achmad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *