Gowa,Makassarglobal.com,-“Hidup tak pernah benar-benar memberi jalan yang mudah bagi setiap orang. Di balik sebuah keberhasilan, selalu ada cerita panjang tentang air mata, pengorbanan, dan perjuangan yang tak terlihat. Begitulah kisah hidup Risvandi Marsulung, seorang pemuda sederhana asal Desa Panciro, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, yang kini dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Dusun Bontoramba.

Tak banyak yang tahu, sebelum mengenakan tanggung jawab sebagai aparat desa, Risvandi pernah menjalani hari-hari berat sebagai buruh harian. Perjalanan hidupnya dimulai selepas menamatkan pendidikan, saat ia mencoba mengadu nasib dengan melamar pekerjaan di PT Bosowa sesuai keterampilannya di bidang mekanik. Berkat kegigihan dan tekad kuat, ia diterima bekerja di bagian maintenance body repair. Namun baginya, pekerjaan itu bukan garis akhir. Setiap pulang kerja, ketika orang lain memilih beristirahat, Risvandi justru kembali ke bengkel kecil milik ayahnya, membantu sembari memperdalam ilmu yang kelak menjadi bekal besar dalam hidupnya.

Waktu terus berjalan. Pada tahun 2014, atas dorongan kedua orang tuanya, Risvandi menikahi Nurhidayat Haris, perempuan yang kemudian menjadi pendamping setianya dalam suka dan duka kehidupan. Namun awal rumah tangga mereka jauh dari kata mudah. Mereka harus tinggal di rumah mertua dan hidup dalam keterbatasan ekonomi. Demi menyambung hidup, Risvandi rela bekerja sebagai buruh harian selama kurang lebih lima bulan. Masa-masa itu menjadi ujian berat yang menempa mental dan keteguhan hatinya sebagai kepala keluarga.

Di tengah himpitan hidup, secercah harapan kembali datang. Risvandi mendapat informasi lowongan kerja di Bosowa Taksi. Dengan penuh keyakinan, ia kembali mengajukan lamaran dan takdir kembali berpihak kepadanya. Ia diterima sebagai mekanik dan mengabdi hampir empat tahun. Pengalaman itulah yang kemudian memberinya keberanian besar untuk melangkah mandiri. Pada tahun 2018, ia mengambil keputusan besar: keluar dari pekerjaannya dan membuka bengkel kecil di rumah. Dari tempat sederhana itu lahirlah Bengkel Raffa, usaha yang hingga kini tetap menjadi penopang ekonomi keluarganya.

Di tahun yang sama, jalan pengabdian terbuka lebih luas. Pemerintah Desa Panciro membuka pendaftaran calon Kepala Dusun. Risvandi merasa terpanggil untuk ikut mengambil bagian dalam pelayanan masyarakat. Dengan niat tulus dan tekad kuat, ia maju sebagai calon. Jalan menuju posisi itu pun tidak mudah. Ia harus mengumpulkan hampir 500 dukungan warga berupa fotokopi KTP dan tanda tangan sebagai syarat administrasi. Setelah itu, ia mengikuti berbagai tahapan seleksi ketat di Kantor Kecamatan Bajeng, mulai dari tes tertulis hingga wawancara.
Hingga akhirnya, momen yang dinanti itu tiba. Dari hasil pengumuman panitia dan tim penguji, nama Risvandi
Marsulung resmi dinyatakan terpilih sebagai Kepala Dusun Bontoramba. Sebuah titik akhir dari perjuangan panjang yang penuh peluh, sekaligus awal dari tanggung jawab besar untuk masyarakat.

“Menjadi kepala dusun adalah amanah besar. Ini bukan sekadar jabatan, tetapi tanggung jawab untuk hadir di tengah masyarakat, mendengar keluhan mereka, dan memberikan pelayanan terbaik,” ungkap Risvandi dengan mata penuh harap.
Kini, di tengah kesibukannya mengurus warga dan menjalankan tugas pemerintahan desa, Risvandi tetap mempertahankan Bengkel Raffa sebagai usaha sampingan demi menopang kebutuhan keluarga. Baginya, pengabdian dan perjuangan mencari nafkah adalah dua hal yang harus berjalan seiring.
Kisah Risvandi Marsulung menjadi bukti bahwa kesuksesan bukanlah hasil dari keberuntungan semata, melainkan buah dari kerja keras, kesabaran, dan keberanian untuk terus bangkit di setiap keadaan. Dari seorang buruh harian, mekanik, hingga akhirnya dipercaya menjadi kepala dusun—perjalanan hidupnya menjadi pengingat bahwa setiap perjuangan, seberat apa pun, pada akhirnya akan menemukan muaranya. (Red)
Penulis. : MZ.Nurdin Achmad.
Laporan : Redaksi.MGI.

















