PEREMPUAN ITU TIDAK MELAWAN DENGAN TERIAKAN YANG SAMA

Gowa-Makassarglobal.com.-“Ada kalanya kekuasaan tidak diuji ketika keadaan tenang, melainkan ketika suara mulai meninggi, barisan mulai terguncang, dan perintah berbeda datang dari arah yang berbeda.

Pagi itu, Senin, 24 Agustus 2026, suasana apel pagi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gowa menjadi sorotan. Apel yang dipimpin langsung Bupati Gowa, Husniah Talenrang, diwarnai sebuah aksi yang mengundang perhatian.

Seorang pejabat yang disebut-sebut sebagai Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Gowa dikabarkan memerintahkan sejumlah ASN di lingkungan OPD tersebut untuk membubarkan diri dari apel. Jika informasi tersebut benar, maka muncul pertanyaan serius: di bawah komando siapa sebenarnya birokrasi pemerintahan sedang berdiri?

Sebab, apel bukan sekadar barisan pegawai. Di dalamnya terdapat simbol kedisiplinan, struktur komando, serta penghormatan terhadap tata pemerintahan.

Di tengah situasi yang memanas, Husniah tidak memilih untuk berteriak lebih keras. Ia tetap berdiri, menyampaikan amanah, dan meminta ASN menjaga ketenangan. Ia tidak menjadikan apel pagi sebagai arena pertengkaran ataupun panggung adu kekuasaan.

 

Sikap tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun dalam situasi politik dan pemerintahan yang penuh tekanan, menahan diri bukanlah perkara mudah. Ada emosi yang bisa muncul, tudingan yang mungkin ingin dijawab, serta tindakan yang mungkin ingin segera dilawan.

Namun, seorang pemimpin justru terlihat ketika keadaan tidak lagi tenang. Husniah memilih menyelesaikan amanahnya tanpa ikut terseret dalam kegaduhan yang terjadi di sekelilingnya.

Peristiwa tersebut kemudian membuka pertanyaan yang lebih besar mengenai komando dan etika birokrasi.

Jika benar ada instruksi agar ASN membubarkan diri ketika apel sedang dipimpin langsung oleh Bupati, maka persoalannya tidak lagi sebatas siapa yang datang ke lapangan dan siapa yang meninggalkan barisan. Hal itu menyentuh persoalan disiplin ASN, kewenangan pejabat, serta penghormatan terhadap mekanisme pemerintahan.

 

Birokrasi bukan massa yang dapat diarahkan sesuka hati. Setiap pejabat memiliki kewenangan sekaligus batas kewenangan. Jika terjadi perbedaan perintah di lapangan, penyelesaiannya bukan melalui adu suara atau mempertontonkan kekuasaan di hadapan ASN, melainkan melalui aturan, mekanisme, dan institusi yang memiliki kewenangan untuk menilai.

Husniah adalah seorang perempuan yang berada di puncak pemerintahan daerah, sekaligus seorang ibu. Dalam posisi seperti itu, ia tentu memahami bahwa ketika seorang perempuan bersikap tegas, ia bisa dianggap keras. Sebaliknya, ketika memilih diam dan menahan diri, ia bisa dianggap lemah.

Padahal, tidak semua masalah harus diselesaikan dengan suara tinggi dan tidak setiap provokasi layak mendapatkan panggung.

Pengalaman sebagai seorang ibu barangkali mengajarkan kesabaran dalam menghadapi keadaan yang tidak selalu dapat diselesaikan dengan kemarahan. Karena itu, ketenangan bukan berarti kelemahan. Bertahan bukan berarti takut. Dan tidak membalas teriakan dengan teriakan bukan berarti kehilangan wibawa.

Di tengah panasnya persoalan politik dan pemerintahan di Gowa, satu hal penting tetap harus dijaga: tuduhan bukan vonis dan teriakan bukan keputusan.

Jika ada dugaan pelanggaran, periksa dan buktikan. Jika ada dugaan penyalahgunaan kewenangan, proses melalui mekanisme yang berlaku. Jika terdapat persoalan hukum, serahkan kepada lembaga yang berwenang.

Kedudukan seorang pejabat tidak semestinya ditentukan oleh siapa yang paling lantang menyatakan bahwa jabatan itu telah berakhir. Negara memiliki aturan, pemerintahan memiliki mekanisme, dan hukum memiliki proses.

Karena itu, yang lebih penting daripada siapa yang berteriak atau siapa yang meninggalkan barisan adalah pertanyaan: mengapa sebuah apel yang dipimpin langsung oleh Bupati bisa sampai diwarnai instruksi untuk membubarkan ASN?

Pertanyaan itu layak dijawab secara terbuka, dengan fakta dan bukan emosi.

Husniah mungkin tidak mengetahui bagaimana akhir dari badai politik yang sedang menerpanya. Tidak seorang pun benar-benar tahu, karena politik memiliki jalannya sendiri dan hukum memiliki prosesnya sendiri.

Namun satu hal yang dapat terlihat dari sikapnya pagi itu: ia tidak memilih melawan teriakan dengan teriakan yang sama.

Barangkali justru di situlah letak ketegasan seorang pemimpin—tetap berdiri ketika keadaan mulai goyah, tetap tenang ketika suara-suara meninggi, dan menyerahkan setiap persoalan pada aturan yang semestinya menjadi panglima dalam pemerintahan.-“(Red)”

Laporan : Tim Makassarglobal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *