Oleh Nurul Jamiah Sidiq, M.pd
Dosen PGPAUD FIP UNM
Gowa.makassarglbal.com-“Di Setiap Tahun Tepat Pada tanggal 2 Mei. Seluruh Jajaran Dari Dosen,Guru,f dan Tokoh Khususnya di dunia Pendidikan Tentunya merayakan Hari Pendidikan Nasional. Sekolah-sekolah menggelar upacara, dalam momentum Hari bersejarah banya dari kalangan pemerintah dan masyaraka turut berpartisipasi untuk memberikan ucapan selamat melalui media sosial dipenuhi ucapan, dan nama Ki Hadjar Dewantara kembali disebut sebagai tokoh penting dalam dunia pendidikan Dalam Negeri Pertiwi.
Tapi jujur saja, setelah semua itu selesai apa yang benar-benar berubah?
Pertanyaan ini penting, bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak berhenti pada seremoni. Pendidikan hidup dalam keseharian: di ruang kelas, di rumah, bahkan di percakapan sederhana antara orang dewasa dan anak.
Sering kali kita masih mengukur keberhasilan pendidikan dari angka. Nilai bagus dianggap sukses, peringkat tinggi jadi kebanggaan. Tidak salah, tetapi kalau hanya itu yang dikejar, kita sedang menyederhanakan makna pendidikan. Anak-anak bisa saja pintar mengerjakan soal, tapi belum tentu siap menghadapi kehidupan.
Padahal, dunia yang mereka hadapi sekarang jauh lebih kompleks. Informasi datang tanpa henti, teknologi terus berubah, dan tantangan sosial semakin beragam. Dalam situasi seperti ini, anak-anak tidak hanya butuh pengetahuan, tetapi juga butuh kemampuan berpikir, beradaptasi, dan memahami orang lain.
Di sinilah peran kita sebagai pendidik dalam arti luas menjadi sangat penting. Guru di sekolah, dosen di kampus, orang tua di rumah, bahkan masyarakat sekitar, semuanya punya kontribusi. Anak belajar bukan hanya dari buku, tetapi dari apa yang mereka lihat dan rasakan setiap hari.
Cara kita berbicara kepada mereka, cara kita merespons kesalahan mereka, bahkan cara kita memperlakukan orang lain semua itu adalah pendidikan.
Namun, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak tantangan. Tidak semua anak punya akses pendidikan yang sama. Tidak semua pendidik mendapatkan dukungan yang cukup. Perubahan teknologi juga sering kali terasa lebih cepat daripada kesiapan kita untuk mengikutinya.
Karena itu, Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momen untuk berhenti sejenak dan bertanya:
Sudahkah kita benar-benar mendidik, atau hanya mengajar?
Sudahkah kita memberi ruang bagi anak untuk tumbuh, atau justru terlalu sibuk mengatur mereka?
Pendidikan yang baik tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Ia bisa dimulai dari hal sederhana. Mendengarkan anak dengan sungguh-sungguh. Memberi mereka kesempatan untuk mencoba dan gagal. Menghargai proses, bukan hanya hasil.
Seperti yang pernah diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara, pendidikan seharusnya menuntun, bukan menekan. Artinya, setiap anak punya potensi yang berbeda, dan tugas kita adalah membantu mereka menemukannya, bukan memaksakan standar yang sama.
Akhirnya, Hari Pendidikan Nasional bukan hanya milik sekolah atau pemerintah. Ini adalah milik kita semua. Karena pendidikan tidak terjadi setahun sekali, tetapi setiap hari.
Dan mungkin, perubahan besar dalam pendidikan justru dimulai dari hal kecil yang kita lakukan hari ini.Tandasnya.”(Red)”
Laporan . MZ.Nurdin Achmad Pimpinan .Redaksi.








