Program Pertukaran Pelajar yang Sempat Mati Suri Akibat Pandemi, Kini Hidup Lagi di SMAN 5*
Gowa-makassarglobal.com.-“Jika ruang kelas adalah jendela pertama untuk melihat dunia, maka Rabu siang, 23 September 2026, di aula SMAN 5 Gowa, jendela itu dibuka lebih lebar.
Dua remaja perempuan berambut pirang dan cokelat berdiri di depan puluhan siswa. Namanya Leony, dari Belgia. Dan Maby, dari Brasil. Keduanya bukan turis. Mereka adalah murid. Untuk 11 bulan ke depan, mereka akan belajar, makan, tidur, dan hidup sebagai orang Makassar.

Momen itulah yang menandai kembalinya sebuah program yang lama hilang: *Youth Exchange Program (YEP) Rotary Club.*
Yang datang bukan orang sembarangan. Presiden Rotary Club Ujung Pandang, *Hernawan*, memimpin langsung rombongan bersama Wirma, Abdul Mahsyar, dan Nani Harlinda Nurdin. Mereka disambut Kepala SMAN 5 Gowa, *Sudarman*.
Bagi Hernawan, kunjungan ini bukan sekadar tugas organisasi. Ini adalah pulang kampung.
“Tiga anak saya semuanya sekolah di sini. SMAN 5 Gowa ini,” ujarnya dengan nada bergetar.
Keempat? Keempat-empatnya pernah ia lepas untuk ikut YEP. Satu ke Meksiko, satu ke Belanda, satu lagi ke Amerika Serikat. Hasilnya?
“Satu sekarang bekerja di Australia. Satu lagi sudah jadi dokter di Kalimantan Barat,” kata Hernawan. “Saya selalu bilang, keberhasilan mereka tidak lepas dari didikan guru-guru di sini.”

Kalimat itu mengubah suasana sosialisasi menjadi testimoni hidup. YEP bukan lagi brosur tentang cara ke luar negeri. Ia adalah investasi karakter.
Hal itulah yang membuat Kepala Sekolah Sudarman tak bisa menyembunyikan antusiasmenya.
“Terus terang, saya sempat bertanya-tanya. Kenapa setelah Covid-19 program bagus seperti ini tidak ada lagi?” ungkap Sudarman. “Dan hari ini, jawabannya datang. Jendela itu dibuka kembali.”
Kerinduan itu wajar. Selama pandemi, pertukaran pelajar mati suri. Dunia menutup pintu. Kini, pintu itu diketuk kembali dari Gowa.
Leony dan Maby kemudian bercerita. Dengan bahasa Indonesia yang masih terbata-bata, mereka mengaku jatuh cinta pada Makassar. Pada keramahan, pada makanannya, pada kebisingannya yang hangat.
Leony kini tinggal bersama Host Family, pasangan Yusri dan Tika. Sementara Maby, diasuh keluarga Haryadi dan Yulia. Mereka bukan sekadar menumpang tinggal. Mereka menjadi anak.

“Kami ingin adik-adik di SMAN 5 tidak takut bermimpi,” kata Maby. “Tinggal satu tahun di negara orang, itu mengubah cara kita melihat hidup.”
Di sinilah esensi YEP dijelaskan secara rinci oleh *Wirma*. Ia memaparkan bahwa YEP bukanlah jalan-jalan.
Ada seleksi. Ada pembekalan. Ada air mata rindu di bulan-bulan pertama. Ada proses adaptasi untuk bisa bertahan hidup di budaya yang sama sekali berbeda. Siswa yang terpilih akan menjadi duta. Duta sekolah, duta Gowa, duta Indonesia.
Bagi SMAN 5 Gowa, ini lebih dari sekadar program. Ini adalah harapan.
Harapan bahwa dari sebuah sekolah negeri di dataran tinggi Gowa, akan lahir lagi anak-anak yang pulang dengan aksen Belgia, dengan cerita tentang salju di Brasil, atau dengan jaringan pertemanan dari Meksiko hingga Australia.
Karena pada akhirnya, pendidikan terbaik memang tidak selalu terjadi di dalam kelas yang ber-AC. Kadang, ia terjadi saat seorang anak harus belajar memesan makanan dalam bahasa asing, atau belajar merindukan rumah untuk pertama kalinya.
Dan hari itu, di SMAN 5 Gowa, pelajaran itu dimulai kembali.”(Red)”-MZ.NA.


















