Surabaya -makassarglobal.com.-“Ada perjalanan yang tidak sekadar menempuh jarak, tetapi menelusuri kembali jejak sejarah. Ada ziarah yang bukan hanya menundukkan kepala di hadapan pusara, melainkan usaha untuk menyentuh kembali akar sebuah gagasan.
Menjelang Deklarasi Nasional Partai Nasionalis Nusantara (PNN) pada 1 Oktober 2026, Ketua Umum DPN PNN mengajak Ketua DPW PNN Sulawesi Selatan, Ketua DPW PNN Jawa Timur, serta jajaran pengurus untuk melakukan Ziarah Kebangsaan ke makam Bung Karno di Blitar.

Ajakan itu disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional DPN PNN di sela-sela konsolidasi bersama jajaran DPW PNN Sulsel dan DPW PNN Jawa Timur di Hotel Singaraja, Surabaya, Rabu (30/9/2026).
Bagi pimpinan PNN, perjalanan menuju Blitar bukan hendak ditempatkan sebagai seremoni menjelang deklarasi, melainkan sebagai momentum refleksi atas sejarah nasionalisme Indonesia. “PNN lahir dari rahim PNI,” tegasnya, seraya menempatkan warisan pemikiran Bung Karno sebagai salah satu sumber inspirasi perjuangan politik yang hendak dibawa PNN.

Secara historis, Partai Nasional Indonesia (PNI) didirikan Soekarno di Bandung pada 4 Juli 1927. PNI pada masa awal pergerakan membawa agenda kemerdekaan Indonesia dan mengembangkan gagasan nasionalisme serta Marhaenisme; perjalanan politiknya kemudian mengalami berbagai fase dan perubahan hingga pembubarannya pada 1931
.
Karena itu, penyebutan PNI dalam narasi PNN menjadi bagian penting dari identitas sejarah yang ingin ditegaskan oleh pimpinan partai tersebut. Namun, hubungan organisatoris maupun kelembagaan antara PNN dan PNI merupakan klaim serta posisi politik PNN yang perlu dibaca sesuai penjelasan resmi organisasi itu sendiri.
Di dalam bingkai itulah ziarah ke Blitar memperoleh makna simbolik. Dari Surabaya tempat konsolidasi, menuju Blitar tempat Bung Karno dimakamkan, kemudian kembali menuju Surabaya untuk Deklarasi Nasional. Sebuah perjalanan yang dirangkai menjadi tiga kata: konsolidasi, ziarah, deklarasi. Bagi PNN, perjalanan tersebut dimaksudkan sebagai upaya menyatukan langkah organisasi dengan refleksi atas sejarah nasionalisme yang menjadi bagian dari warisan perjuangan bangsa. Bukan mengambil masa lalu untuk sekadar dikenang, melainkan membaca kembali gagasan kebangsaan agar dapat ditempatkan dalam konteks zaman yang terus berubah.
Pada akhirnya, sejarah tidak pernah benar-benar selesai ketika tokohnya meninggalkan dunia. Ia terus hidup melalui gagasan yang diperdebatkan, ditafsirkan, dikritisi, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bung Karno telah menjadi bagian penting dari sejarah berdirinya PNI dan perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kini, menjelang 1 Oktober, PNN memilih Blitar sebagai salah satu titik refleksinya. Sebab sebuah partai boleh lahir pada zaman yang berbeda, tetapi setiap perjuangan yang mengaku membawa nama nasionalisme dituntut untuk menjawab satu pertanyaan sejarah: untuk siapa kekuasaan diperjuangkan, dan kepada siapa ia harus kembali.
Dari Surabaya menuju Blitar. Dari konsolidasi menuju ziarah. Dari ziarah menuju deklarasi.
PNN Tetap Hidup. MZ.NA.















