Surabaya-makassarglobal.com-“ Sejarah tidak pernah lahir dari kebetulan. Ia tumbuh dari gagasan, bergerak melalui keyakinan, lalu menemukan tanggal dan tempat yang kelak menjadi penanda zaman.

Acara Yang Di Gagas Oleh Ketua Umum DPN PNN Bapa, Teteng Indra Ardilla dan Hadiri oleh Sejumlah DPW PNN yakni DPW PNN Sulawesi Selatan DPW PNN JOKJA, DPW PNN Jawa Tengah
Dan DPW PNN Jawa Timur Sebagai Tuan Rumah Yang Berlangsung Di Museum Hos Tjokroaminoto Jalan Peneleh Gang.7 No.21 Surabaya.Jawa Timur.

Kamis, 1 Oktober 2026, sebuah babak baru perjalanan politik kebangsaan Indonesia resmi ditorehkan. Partai Nasionalis Nusantara (PNN) dideklarasikan di Museum HOS Tjokroaminoto, Surabaya, sebuah ruang yang menyimpan jejak panjang pergerakan nasional dan menjadi saksi lahirnya gagasan kebangsaan para pendahulu bangsa. Dari tempat yang sarat sejarah itulah PNN memperkenalkan dirinya kepada publik sebagai kekuatan politik yang membawa semangat nasionalisme dan gagasan kerakyatan.

Tanggal 1 Oktober bukan sekadar pilihan kalender. Hari itu bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, sebuah momentum nasional yang memiliki makna penting dalam perjalanan ideologi bangsa. Bagi PNN, momentum tersebut menjadi simbol bahwa perjuangan politik harus tetap berpijak pada Pancasila, nasionalisme, persatuan, serta keberpihakan terhadap kehidupan rakyat. Karena itu, deklarasi PNN tidak hanya dipandang sebagai kelahiran sebuah organisasi politik, tetapi juga sebagai upaya menempatkan kembali gagasan kebangsaan dalam konteks perjalanan Indonesia hari ini.

Sebelum deklarasi, jejak perjalanan PNN terlebih dahulu diarahkan kepada akar sejarahnya. Konsolidasi para pimpinan wilayah menjadi bagian dari proses menuju deklarasi nasional, disusul ziarah ke makam Bung Karno di Blitar sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang memiliki tempat penting dalam sejarah pergerakan nasional, Pancasila, dan gagasan Marhaenisme. Bagi PNN, perjalanan Surabaya–Blitar–Surabaya bukan sekadar perjalanan geografis, melainkan napak tilas untuk mengingat dari mana gagasan nasionalisme dan kerakyatan itu tumbuh.

Di titik inilah ungkapan “Dari PNI Lahirlah PNN” menemukan maknanya sebagai narasi sejarah dan ideologis yang hendak dibawa partai. PNN menyatakan dirinya membawa semangat nasionalisme kerakyatan yang terinspirasi dari perjalanan pemikiran Bung Karno dan gagasan Marhaenisme—sebuah gagasan yang menempatkan rakyat kecil, petani, pekerja, dan masyarakat yang berjuang mandiri sebagai bagian penting dari cita-cita kebangsaan. Namun, perjalanan politik PNN ke depan tentu akan diuji bukan hanya oleh simbol dan sejarah, melainkan oleh kemampuan menerjemahkan gagasan tersebut menjadi kerja politik yang nyata bagi masyarakat.
Surabaya menjadi tempat deklarasi. Blitar menjadi ruang penghormatan terhadap akar sejarah.
Dan 1 Oktober menjadi penanda kelahiran PNN di panggung politik nasional. Dari jejak masa lalu menuju tantangan masa depan, PNN memasuki babak barunya dengan membawa satu pesan: nasionalisme tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus hadir dalam kehidupan rakyat.
PNN — Dari akar nasionalisme, menuju masa depan Nusantara.(Red)-MZ.NA.















