Blitar Jawa timur-Makassar global.com.-“Jika perahu Pinisi butuh kompas untuk mengarungi samudra, maka Partai Nasionalis Nusantara butuh kompas sejarah untuk mengarungi zaman. Kompas itu adalah Makam Sang Guru Bangsa

Di tengah sejuknya embun pagi Kota Blitar, ‘Ketua Dewan Pengurus Wilayah Partai Nasionalis Nusantara Sulawesi Selatan (DPW PNN Sulsel), Tuan Syarifuddin, bersama rombongan pengurus dan kader, melaksanakan ziarah khidmat di ‘Makam Sang Proklamator, Sang Guru Bangsa, Ir. H. Soekarno, menjelang ‘Deklarasi Akbar PNN pada 1 Oktober 2026

Ini bukan sekadar ziarah. Ini adalah Perjalanan Rohani Ideologi.
Rombongan datang bukan membawa bunga semata, tetapi membawa ‘3 Janji Suci PNN Sulawesi Selatan’ untuk diletakkan di atas pusara Sang Singa Podium. Tuan Syarifuddin terlihat lama terdiam, menundukkan kepala, tangannya menyentuh nisan marmer hitam itu. Dalam hening yang sastra, yang terdengar bukan doa biasa, melainkan bisikan sejarah yang kembali hidup.

“Kami datang bukan untuk meminta jabatan, wahai Guru Bangsa. Kami datang untuk meminta restu perjuangan. Jika Engkau dulu berkata -JAS MERAH – Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah_, maka kami hari ini berkata _JAS MERAH PUTIH_ – Jangan Sekali-kali Mengkhianati Amanat Rakyat,” bisik Tuan Syarifuddin di depan pusara, dengan suara bergetar namun tegas.
Secara filosofis, ziarah ini memaknai 3 pilar:
1. Filosofi Akar: Bung Karno mengajarkan Nasionalisme bukanlah chauvinisme, melainkan cinta yang berakar di tanah sendiri. PNN Sulsel yang lahir dari rahim Pinisi, harus berakar kuat di bumi Sulawesi sebelum berlayar ke Nusantara. Blitar adalah akar itu.
2. Filosofi Jangkar: ‘Di makam inilah jangkar ideologi bangsa ditanam. Tuan Syarifuddin menegaskan, Deklarasi 1 Oktober bukanlah deklarasi partai baru, melainkan deklarasi untuk menambatkan kembali jangkar yang lepas’ – jangkar Keadilan Sosial, jangkar Berke Tuhanan, jangkar Persatuan yang kini dihantam badai liberalisme dan pragmatisme.

3. Filosofi Layar: Jika makam adalah jangkar, maka Deklarasi 1 Oktober adalah layar yang akan dikembangkan. Dari Blitar, Tuan Syarifuddin membawa api semangat Marhaenisme – membela wong cilik, petani tambak di Pangkajene, nelayan di Jeneponto, dan petani rumput laut di Pesisir Pajukukang Bantaeng- untuk dikibarkan sebagai Layar Besar PNN.

Ziarah diakhiri dengan tabur bunga dan pembacaan teks Pancasila 1 Juni 1945. Rombongan meninggalkan Blitar bukan dengan air mata, tetapi dengan mata yang lebih menyala.
Dari Blitar, kami pulang bukan sebagai pengurus partai, tapi sebagai ‘murid-murid baru Sang Guru Bangsa’ yang siap mendeklarasikan diri pada 1 Oktober . Merdeka! Adil dan Makmur! Salam Satu Jangkar!
MEDIA CENTER DPW PNN SULSEL
Koordinator Liputan: MZ. NURDIN ACHMAD Blitar, 28 September 2026
Ketua DPW PNN Sulsel – Tuan Syarifuddin















