Oleh: MZ. NURDIN ACHMAD – Kepala Media Center DPW PNN Sulsel / Jurnalis Sejak Era 80-an*
Gowa.Sulsel- makassarglobal.com.-“Jurnalisme Adalah Tanggung Jawab Sosial. Politik Adalah Tanggung Jawab Kebangsaan. Ketika keduanya bertemu di atas satu perahu, ia tidak boleh oleng.”_
SURABAYA-CELEBES, 2 Oktober 2026 – Jika dulu saya belajar jurnalistik dengan mengejar detik-detik peristiwa di lapangan dengan kamera ENG di pundak sejak era 80-90an, hari ini saya belajar bahwa kamera itu harus diarahkan ke arah yang lebih besar: “Arah Bangsa.”
Hari ini, jurnalistik saya berlayar. Bukan lagi sekadar meliput ombak, tapi menjadi bagian dari perahu itu sendiri. Perahu Politik bernama Partai Nasionalis Nusantara (PNN). Perahu Pinisi yang berlayar dari Surabaya menuju Sulawesi.
Filosofi Tantangannya di sini:
1. Dulu Kami AWASI Kekuasaan, Kini Kami Harus Diawasi.
Inilah ATM pertama. Dalam jurnalistik, kita diajarkan A – AWASI . Dulu lensa kami mengawasi penguasa. Sekarang ketika jurnalis masuk ke perahu politik, kami harus siap diawasi oleh publik dengan standar yang lebih keras. Ombaknya lebih besar. Badai petirnya seperti di gambar itu. Itulah harga sebuah tanggung jawab.
2. Dulu Kami TIRU Idealisme, Kini Kami Uji Idealisme itu.
T – TIRU. Kami meniru idealisme para pendahulu. Bung Karno, para pembuat Pinisi yang tidak pernah pakai peta GPS tapi sampai ke tujuan karena bintangnya jelas. Ketika masuk politik, apakah idealisme itu masih utuh? Atau karam di tengah jalan karena kompromi? Ini tantangan filosofis terbesar seorang jurnalis yang berpolitik.
3. Dulu Kami MODIFIKASI Berita, Kini Kami Harus MODIFIKASI Nasib Rakyat.
M – MODIFIKASI. Inilah puncak ATM. Jurnalistik tidak boleh hanya berhenti di tulisan “Jurnalis Berintegritas Membangun Bangsa” di atas buku catatan. Ia harus turun menjadi kebijakan. Ia harus dimodifikasi menjadi solusi. Dari 5W+1H di lapangan, menjadi 5W+1H di parlemen.
Perahu Pinisi mengajarkan kita: Satu kayunya dari Sulawesi, layarnya dijahit di Surabaya, nahkodanya bisa dari mana saja, tapi tujuannya satu: Jangan sampai tenggelam.
Begitulah PNN. Partai ini bukan milik satu orang. Ia adalah perahu besar yang menampung semua idealisme.
Ketika seorang jurnalis naik ke Perahu Politik, ia tidak meninggalkan KEJ (Kode Etik Jurnalistik). Justru ia membawanya naik ke atas perahu sebagai jangkar. Agar perahu tidak oleng oleh hoaks, oleh fitnah, oleh pragmatisme.
Maka, ketika jurnalistik berlayar ke perahu politik, ia tidak sedang berkhianat pada profesinya. Ia sedang naik kelas: dari yang hanya mencatat sejarah, menjadi yang ikut menulis sejarah.
Ini bukan pelayaran yang tenang. Ini pelayaran menembus badai. Dari Surabaya ke Sulawesi, ombaknya pasti ganas.
Tapi bukankah seorang jurnalis era 80-90an sudah terbiasa dengan cuaca buruk?- “(Red)”
Laporan Khusus Ekspedisi Jurnalisme
MZ. NURDIN ACHMAD
Media Center DPW PNN Sulsel.















