Surabaya-makassarglobal.com.-“ Atas nama rakyat yang masih menunggu keadilan. Atas nama anak bangsa yang mengga ntungkan masa depan pada harapan. Dan atas nama sejarah yang tidak boleh dikuburkan oleh zaman—perjuangan ini dinyatakan belum selesai.Ucap Ca Teteng Ardilla Abdillah Ketua Umum DPN PNN Terhadap Peserta yang berlangsung di Hotel Singaraja Indah Surabaya Pada Kamis.1.Oktober 2026.
Deklarasi telah selesai. Bendera telah dikibarkan. Ikrar perjuangan telah diucapkan. Namun, sejarah tidak pernah mencatat sebuah perjuangan hanya karena kata-kata yang indah. Sejarah mencatat mereka yang berani turun ke jalan kehidupan, mendengar suara rakyat, menyentuh luka yang belum sembuh, serta bekerja ketika yang lain masih sibuk berbicara. Karena itu, bagi Partai Nasionalis Nusantara (PNN), deklarasi bukan garis akhir, melainkan pintu pertama menuju perjalanan panjang: membuktikan sebelum menjanjikan, bekerja sebelum menuntut kepercayaan.
Dalam suasana khidmat di penghujung rangkaian deklarasi, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PNN, Teteng Ardilah Abdillah, secara simbolis menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepengurusan kepada Syarifuddin sebagai Ketua DPW PNN Sulawesi Selatan, didampingi Syahril sebagai Wakil Ketua. Struktur kepengurusan tersebut diperkuat Alfian Irma sebagai Sekretaris, Muhammad Ruslan D.S. sebagai Wakil Sekretaris, serta Fahdini Ramadhan Faisal, S.Pd. sebagai Bendahara DPW PNN Sulawesi Selatan.

Penyerahan SK tersebut menjadi simbol bahwa sebuah amanah telah berpindah dari lembaran keputusan menjadi tanggung jawab yang harus diwujudkan di tengah masyarakat. Di hadapan jajaran pengurus dan kader, pesan Ketua Umum DPN PNN tidak berhenti pada seremoni. Amanah itu diarahkan kepada seluruh jajaran PNN, mulai dari DPW, DPD, PAC hingga para kader di 38 provinsi agar menjadikan partai sebagai rumah perjuangan, bukan sekadar tempat mengejar jabatan. Setiap kader diminta memahami bahwa nama besar organisasi tidak akan berarti apabila tidak dibarengi kerja nyata.
“Bukti dulu, baru janji,” menjadi pesan moral yang harus diterjemahkan dalam tindakan: hadir ketika rakyat membutuhkan, mendengar ketika rakyat berbicara, dan bekerja ketika masyarakat menghadapi persoalan.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kekuasaan, apabila kelak dipercayakan oleh rakyat, bukanlah mahkota untuk dibanggakan, melainkan
amanah yang harus di pertanggung jawabkan.

Kursi boleh berganti, jabatan boleh berakhir,dan zaman boleh berubah, tetapi nilai perjuangan tidak boleh kehilangan arah. Para kader PNN diingatkan untuk menjaga etika, persatuan, disiplin organisasi, serta tidak mencederai kepercayaan masyarakat. Amanah partai harus berjalan seiring dengan amanah sejarah—bahwa perjuangan politik pada akhirnya harus kembali kepada kepentingan rakyat dan masa depan bangsa.
Dari Surabaya, pesan itu kemudian bergerak menuju seluruh penjuru Nusantara. Dari pusat hingga daerah, dari DPW hingga PAC, api perjuangan tidak boleh hanya menyala ketika panggung deklarasi berdiri. Api itu harus hidup dalam kerja sehari-hari, dalam pengabdian, dalam keberanian membela kepentingan masyarakat, dan dalam kesediaan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Sebab sebuah partai tidak dibesarkan oleh banyaknya spanduk dan panjangnya pidato, tetapi oleh jejak kerja yang dapat dirasakan rakyat.
Sejarah para pendiri bangsa mengajarkan satu hal penting: Indonesia tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari keberanian, pengorbanan, air mata, bahkan darah para pejuang yang menolak menyerah kepada keadaan. Karena itu, ketika PNN menyebut dirinya membawa semangat nasionalisme Nusantara, maka semangat tersebut harus dibuktikan melalui kerja yang nyata, persaudaraan yang kokoh, dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat. Deklarasi boleh menjadi awal.

Tetapi rakyatlah yang kelak menjadi saksi apakah api perjuangan itu benar-benar menyala atau hanya menjadi nyala sesaat di panggung sejarah. Kini waktunya bergerak.
Bukan sekadar berkata tentang perubahan, tetapi menghadirkan perubahan. Bukan sekadar meminta kepercayaan, tetapi membangun kepercayaan.
Bukan sekadar menjanjikan masa depan, tetapi mulai mengerjakannya hari ini.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak bertanya berapa banyak janji yang pernah diucapkan. Sejarah akan bertanya: apa yang telah dilakukan ketika rakyat menaruh harapan?
PNN telah mendeklarasikan perjuangannya.
Kini saatnya seluruh kader membuktikan bahwa amanah itu bukan sekadar kata—melainkan jalan panjang yang harus ditempuh dengan ketulusan, keberanian dan tanggung jawab.
Dari deklarasi menuju kerja nyata. Dari kata menuju bukti. Dari amanah menuju pengabdian.
Bukti dulu, baru janji.Imbuhnya.(Red) MZ.NA.
Laporan Media Center PNN.















