Dari Balik Meja Menuju Tempat Pembuangan Sampah: Itulah Dr. Hj. Sitti Husniah Talenrang, S.E., M.M., Bupati Gowa

Oleh: Syarifuddin Kulle

Gowa-makassarglobal.com.-“Ada persoalan yang tidak akan pernah selesai hanya dengan rapat, laporan, atau pembahasan panjang di balik meja. Sampah adalah salah satunya.

Ketika persoalan persampahan mulai menyentuh ruang publik dan pelayanan masyarakat, seorang pemimpin dituntut tidak hanya mendengar laporan dari bawah, tetapi juga melihat langsung kondisi di lapangan.

Itulah yang dilakukan Bupati Gowa, Dr. Hj. Sitti Husniah Talenrang, S.E., M.M.

Bupati turun langsung meninjau kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sebuah langkah yang secara sederhana menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak cukup dipandang sebagai urusan teknis semata, tetapi sebagai bagian dari pelayanan publik yang menyentuh kehidupan masyarakat setiap hari.

Beberapa hari terakhir, persoalan persampahan di Gowa memang menjadi perhatian, terutama berkaitan dengan pengangkutan sampah dan akses menuju TPA.

Di tengah situasi tersebut, Bupati menyampaikan satu kalimat sederhana namun sarat makna:
“Insya Allah ada solusinya.”

Kalimat itu tentu bukanlah akhir dari sebuah persoalan.

Justru menjadi awal dari sebuah pekerjaan besar: bagaimana mencari solusi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

SAMPAH BUKAN SEKADAR URUSAN KOTOR DAN BERSIH

Persoalan sampah memiliki mata rantai yang panjang.

Di dalamnya terdapat persoalan pelayanan publik, kesehatan lingkungan, armada pengangkutan, operasional TPA, tata kelola, pembiayaan, perilaku masyarakat, hingga bagaimana sampah dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.

Karena itu, penyelesaiannya tidak cukup berhenti pada pertanyaan:
“Siapa yang salah?”

Tetapi harus bergerak menuju pertanyaan yang lebih penting:
“Apa masalahnya, apa solusinya, siapa yang bekerja, dan bagaimana memastikan solusi itu berjalan?”
Rangkaian penyelesaiannya dapat dibangun melalui:

KELUHAN → IDENTIFIKASI MASALAH → SOLUSI → KOLABORASI → TINDAKAN NYATA → PENGAWASAN.

Di sinilah kehadiran kepala daerah di lapangan menjadi penting.

TPA bukan sekadar tempat terakhir sampah dibuang. TPA merupakan salah satu simpul penting dalam keseluruhan sistem persampahan sebuah daerah.

Jika satu mata rantai terganggu, dampaknya dapat dirasakan dari lingkungan permukiman hingga ruang publik.

DARI UCAPAN MENUJU TINDAKAN
Masyarakat tentu berharap pesan “Insya Allah ada solusinya” dapat diterjemahkan ke dalam langkah-langkah konkret.

Pelayanan pengangkutan kembali berjalan dengan baik. Pengelolaan TPA terus dibenahi. Ketersediaan armada dan dukungan operasional diperkuat. Sistem pengawasan diperbaiki.

Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari solusi.

Sebab persoalan sampah tidak mungkin dibebankan seluruhnya kepada pemerintah.

Pemerintah bekerja.

Masyarakat ikut bergerak.

Dunia usaha berkolaborasi.

Tiga unsur tersebut membutuhkan satu kesamaan tujuan: menciptakan lingkungan Gowa yang lebih bersih, sehat dan tertata.

KETIKA SAMPAH MENJADI PELUANG

Persoalan sampah juga seharusnya tidak selalu dilihat dari sisi bebannya.

Dengan pengurangan dan pemilahan sampah sejak dari sumbernya, sebagian sampah dapat memiliki nilai ekonomi.

Bank sampah, pengolahan kembali, serta keterlibatan masyarakat dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi lingkungan.

Di titik inilah semangat Gowa Annangkasi dapat diterjemahkan ke dalam tindakan nyata.

Sampah yang selama ini dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, dapat diarahkan menjadi sesuatu yang dapat dikelola.

Dari sampah, lahir kesadaran.

Dari kesadaran, lahir gerakan.

Dari gerakan, terbuka peluang ekonomi.

Dan dari kolaborasi itulah, kesejahteraan masyarakat dapat diperkuat.

DARI BALIK MEJA KE LAPANGAN
Turunnya Bupati Gowa ke TPA menjadi sebuah pesan sederhana bahwa persoalan daerah tidak semuanya dapat diselesaikan dari balik meja.

Ada saatnya seorang pemimpin harus turun, melihat, mendengar, merasakan kondisi lapangan, lalu membawa persoalan tersebut kembali ke meja pemerintahan untuk dirumuskan menjadi kebijakan dan tindakan.

Sebab kepemimpinan bukan hanya tentang memberikan instruksi.
Kepemimpinan juga tentang kehadiran, keberanian melihat persoalan, mendengar suara masyarakat, dan memastikan solusi benar-benar bekerja.

Gowa bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah.

Gowa bersih adalah tanggung jawab bersama.

Dan dari tempat yang mungkin selama ini dianggap sebagai ujung perjalanan sampah, dapat dimulai sebuah perjalanan baru:
menuju Gowa yang lebih bersih, sehat, tertata, dan memiliki nilai ekonomi dari pengelolaan sampah.
Salam Annangkasi.

Salam sejahtera untuk kita semua.
“(Red)”****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *