Sepuluh Tahun Sudah Berlalu Waktu Tak Terasa Kehilangan untuk selamanya.

Gowa.Makassarglobal.com.-“Ada kematian yang mengakhiri napas, tetapi tidak pernah mampu mengakhiri cinta. Ada jasad yang kembali kepada tanah, tetapi ada nama yang justru tumbuh semakin dalam di dada mereka yang ditinggalkan. Sepuluh tahun lalu, 25 September 2016, Desa Tangke Bajeng, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, seperti kehilangan sebagian dari denyut kehidupannya, ketika kabar duka datang membawa berita tentang kepergian untuk selamanya seorang sosok yang dikenal sebagai Nakoda Tangke Bajeng—pribadi yang tegas, bijaksana dan penuh wibawa. Ia berpulang setelah mobil truk yang dikendarainya terbalik ketika membawa muatan batu bata merah menuju dataran tinggi. Hari itu bukan sekadar sebuah kecelakaan; bagi keluarga, hari itu adalah saat ketika waktu seolah berhenti, karena seorang bapak, tempat seorang anak menggantungkan rasa aman, telah pergi dan tidak pernah kembali melalui pintu rumah yang sama.

Kini, 25 September 2026, sepuluh tahun telah lewat. Dunia berubah, rambut mungkin mulai memutih, langkah kehidupan terus dipaksa berjalan, dan hari-hari perlahan mengajarkan bagaimana seseorang harus tersenyum meski hatinya menyimpan kehilangan. Namun ada satu ruang yang tidak pernah berubah: ruang tempat nama Bapak tinggal. Sebab ternyata, kehilangan seorang bapak bukan sekadar kehilangan sosok yang pernah duduk di rumah, berbicara, menasihati, dan memeluk; kehilangan seorang bapak adalah kehilangan sebuah tempat untuk pulang, kehilangan suara yang dahulu mampu menenangkan kegelisahan, serta kehilangan seseorang yang kehadirannya membuat dunia terasa sedikit lebih aman. Sepuluh tahun mungkin cukup panjang untuk mengajarkan manusia berdamai dengan keadaan, tetapi tidak pernah cukup untuk mengajarkan hati berhenti merindukan.

Bapak, ada begitu banyak cerita yang ingin disampaikan jika waktu masih mau memberikan satu kesempatan saja. Tentang perjalanan hidup yang telah dilalui, tentang hari-hari ketika dunia terasa berat, tentang kebahagiaan yang ingin dibagikan, tentang kesalahan yang ingin disesali, bahkan tentang keputusan-keputusan yang dahulu mungkin membutuhkan satu kalimat sederhana darimu: “Nak, bagaimana kabarmu?” Tetapi waktu tidak mengenal kata kembali. Maka setiap kali rindu datang, tidak lagi kucari wajahmu di antara manusia, tidak lagi kucari suaramu di antara keramaian. Kucari engkau di dalam doa. Di sanalah cinta seorang anak menemukan jalan menuju seseorang yang telah mendahuluinya menghadap Allah. Di sanalah namamu tetap hidup, bukan sebagai masa lalu yang dilupakan, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang tidak pernah benar-benar pergi. Nakkuku… Rinduku… Bapakku.

Sepuluh tahun telah berlalu sejak hari ketika tanah menjadi tempat peristirahatan jasadmu. Tetapi setiap 25 September datang, kenangan itu kembali mengetuk pintu hati. Wajahmu hadir tanpa diundang, suaramu seperti kembali terdengar dari kejauhan, dan air mata terkadang jatuh sebelum sempat ditahan. Hari ini, doa kembali kupanjatkan untukmu. Bukan untuk meminta Allah mengembalikanmu, sebab aku percaya takdir-Nya lebih sempurna daripada kehendak manusia, melainkan untuk menitipkan satu kerinduan yang tidak sanggup lagi disampaikan melalui pelukan. Semoga Al-Fatihah menjadi cahaya di alam tempat engkau kini berada. Semoga setiap doa menjadi bukti bahwa anakmu tidak pernah melupakan bapaknya. Karena orang yang benar-benar kita cintai ternyata tidak pernah benar-benar pergi; mereka hanya berpindah dari hadapan mata menuju ruang yang lebih dalam—ruang bernama hati.

Dan kelak, jika suatu hari Allah telah menentukan waktuku untuk menyusul perjalanan panjangmu, aku tidak meminta apa-apa selain satu pertemuan yang sederhana: semoga di sebuah tempat yang tidak mengenal kematian, tidak mengenal air mata, dan tidak mengenal kata perpisahan, aku kembali menemukanmu. Saat itu, mungkin aku tidak lagi datang sebagai anak yang menangisi kehilangan, melainkan sebagai seorang anak yang telah menyelesaikan perjalanan hidupnya. Aku ingin berdiri di hadapanmu, menggenggam tanganmu sekali lagi, lalu berkata perlahan: “Bapak… aku sudah sampai. Terima kasih karena pernah menjadi rumah ketika dunia terasa begitu luas. Maaf karena selama hidupku masih ada kata-kata yang belum sempat kusampaikan, cinta yang belum sempat kubalas, dan waktu yang ternyata terlalu singkat untuk seorang anak dan bapaknya.” Sebab pada akhirnya, sepuluh tahun hanyalah jarak dalam kalender; bagi hati, engkau pergi kemarin. Jasadmu memang telah kembali kepada tanah, tetapi cintamu tetap tinggal di dalam darah, kenangan, dan doa anakmu. Dan selama dada ini masih diberi napas, namamu tidak akan pernah menjadi masa lalu—karena ada nama yang tidak ditulis oleh tinta, melainkan ditulis oleh cinta.”(Red)”

Oleh.MZ.Nurdin Achmad.
Pimpinan Redaksi.M.G.I.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *