Ketika Kursi Kekuasaan di Rebut, Dr.HJ. Husniah Talenra Memilih Tetap Berdiri: Serangan Boleh Datang,Tapi Kebenaran Tak Bisa Dipaksakan Berlutut

Gowa-Makassarglobal.com. -“Ada manusia yang ketika diserang memilih membalas. Ada yang ketika dihina memilih berteriak. Tetapi ada pula yang justru memilih diam—bukan karena takut, melainkan karena percaya bahwa waktu memiliki cara sendiri untuk membongkar apa yang benar dan apa yang sekadar dibangun dari prasangka.

Di tengah derasnya polemik yang mengiringi perjalanan kepemimpinan Kabupaten Gowa, sosok kembali menjadi perhatian.
Bagi pendukungnya, berbagai tekanan yang datang justru menjadi ujian atas keteguhan seorang perempuan yang berada di tengah pusaran kekuasaan.

Sebab mempertahankan amanah jauh lebih sulit daripada sekadar merebutnya.

Ketika sebuah jabatan dipandang sebagai sesuatu yang harus dipertahankan atau diperebutkan, godaan untuk menjadikan lawan sebagai musuh sering kali muncul.
Nama baik bisa menjadi sasaran.
Kepercayaan publik bisa menjadi medan pertarungan.

Dan kata-kata dapat berubah menjadi senjata yang tajamnya terkadang melebihi apa pun.
Namun ada satu hal yang tidak boleh dilupakan:

Kursi kepemimpinan memiliki batas waktu.

Tetapi jejak seseorang akan tinggal jauh lebih lama.

JANGAN BUNUH KARAKTER HANYA UNTUK MENANG

Ada perbedaan besar antara mengkritik kebijakan dan menghancurkan karakter seseorang.

Kritik diperlukan dalam demokrasi. Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar. Bahkan seorang pemimpin harus siap menerima koreksi.

Tetapi ketika perbedaan berubah menjadi upaya saling menjatuhkan, masyarakatlah yang akhirnya menjadi penonton dari sebuah pertarungan yang seharusnya tidak mengorbankan kebenaran.

Karena menjatuhkan seseorang tidak otomatis membuat kita lebih tinggi.

Membuat orang lain terlihat buruk tidak otomatis membuat diri sendiri terlihat baik.

Dan mengulang sebuah tudingan berkali-kali tidak akan mengubahnya menjadi kebenaran.
Kebenaran tidak membutuhkan pasukan untuk tetap benar.
Ia hanya membutuhkan waktu.

HUSNIAH DAN UJIAN SEORANG PEREMPUAN DI PUNCAK KEKUASAAN

 

Menjadi seorang perempuan yang memimpin daerah bukanlah perjalanan yang selalu mudah.
Ada harapan masyarakat yang harus dijawab.

Ada keputusan yang harus dipertanggungjawabkan.
Ada kepentingan yang harus diseimbangkan.

Dan ada tekanan yang terkadang harus ditanggung seorang diri.
Di titik itulah kesabaran menjadi mahal.

Sebab tidak semua luka harus diperlihatkan.
Tidak semua tudingan harus dibalas.

Dan tidak setiap serangan harus dijawab dengan serangan.
Kadang seorang pemimpin hanya perlu mengatakan kepada dirinya sendiri:

“Tetaplah bekerja. Biarkan masyarakat menilai. Biarkan waktu membuktikan.”

Itulah bentuk keberanian yang tidak selalu terlihat.

KEPADA MEREKA YANG INGIN MENGGANTI SEORANG PEMIMPIN

Pergantian kepemimpinan adalah bagian dari demokrasi.

Jika ada pihak yang memiliki aspirasi politik, sampaikan melalui mekanisme yang sah.

Jika ada kebijakan yang dianggap keliru, kritiklah dengan data. Jika ada dugaan pelanggaran, tempuh jalur hukum.

Tetapi jangan menjadikan kebencian sebagai kompas.
Sebab kekuasaan yang diperoleh dengan cara meruntuhkan martabat orang lain akan selalu meninggalkan pertanyaan:

Apakah yang diperjuangkan benar-benar kepentingan rakyat, atau hanya pergantian siapa yang duduk di kursi kekuasaan?
Pertanyaan itu bukan untuk menuduh siapa pun.

Pertanyaan itu justru untuk mengingatkan semua pihak.
Bahwa di balik sebuah jabatan terdapat jutaan harapan masyarakat.

BILA SUATU HARI BUKTI BERBICARA

Mungkin hari ini seseorang dapat merasa menang karena berhasil membuat orang lain disudutkan.
Mungkin hari ini sebuah cerita lebih cepat dipercaya daripada klarifikasi.

Mungkin hari ini suara paling keras terlihat sebagai suara yang paling benar.

Tetapi sejarah tidak bekerja seperti itu.

Sejarah tidak mencatat siapa yang paling keras berteriak.
Sejarah mencatat apa yang benar-benar dilakukan.

Karena itu, jangan terlalu takut kepada orang yang sedang berbicara buruk tentang kita.

Takutlah ketika kita sendiri mulai kehilangan kesabaran, kehilangan kejujuran, dan kehilangan kemanusiaan hanya karena ingin membuktikan bahwa kita benar.
Husniah boleh dikritik.

Kebijakannya boleh dipertanyakan.
Kepemimpinannya boleh dievaluasi.
Itulah demokrasi.

Tetapi biarkan semuanya dilakukan dengan cara yang bermartabat.
Sebab ketika pertarungan politik mulai mengorbankan kehormatan manusia, sesungguhnya yang sedang kalah bukan hanya seseorang.

Yang kalah adalah nilai-nilai yang seharusnya kita jaga bersama.

DAN KETIKA BADAI ITU AKHIRNYA BERLALU…

Kelak, ketika semua polemik telah menjadi bagian dari masa lalu, ketika suara-suara keras telah berhenti, ketika orang-orang yang dahulu saling berhadapan kembali menjalani kehidupan masing-masing, mungkin hanya satu pertanyaan yang tersisa:

“Apa yang kita tinggalkan setelah semua ini selesai?”
Bukan siapa yang paling banyak menghina.

Bukan siapa yang paling banyak menuduh.

Bukan siapa yang paling keras meminta seseorang pergi dari kursi kekuasaan.

Tetapi siapa yang tetap menjaga dirinya ketika kesempatan untuk membalas terbuka lebar.
Sebab pada akhirnya, jabatan akan berakhir.

Kekuasaan akan berganti.
Nama-nama baru akan datang.
Tetapi perbuatan manusia akan tinggal sebagai kenangan.
Maka jika hari ini Husniah sedang berada di tengah badai, biarkan badai itu berlalu.

Jangan balas setiap suara.
Jangan kejar setiap tudingan.
Jangan habiskan seluruh tenaga untuk meyakinkan orang yang memang memilih tidak percaya.
Tetaplah berdiri. Tetaplah bekerja. Tetaplah menjaga hati.

Karena mungkin kemenangan terbesar seorang pemimpin bukan ketika semua orang memujinya.
Melainkan ketika setelah dihantam dari berbagai arah, ia masih mampu menatap rakyatnya dengan kepala tegak dan berkata:

“Saya mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang saya.

Tetapi saya masih bisa memilih bagaimana saya menjalankan amanah ini.”
Dan ketika kelak tirai itu benar-benar ditutup, sejarah akan menjadi saksi:

Ada orang yang menghabiskan hidupnya untuk menjatuhkan orang lain.

Dan ada orang yang, meski berkali-kali dijatuhkan, memilih tetap berbuat baik.

Pada akhirnya, waktu tidak pernah salah alamat.

Ia akan mengetuk pintu masing-masing, membawa kembali seluruh kebaikan maupun keburukan yang pernah kita tanam.

Dan mungkin saat itu, tak ada lagi yang perlu berkata apa-apa.
Karena kebenaran telah selesai berbicara.-“(Red)”.MZ.NA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *