KETIKA SHALAWAT MENGGETARKAN BATAM CENTER:

Haji Rahmat Ingatkan, Jangan Sekadar Hafal Nama Rasulullah ﷺ, Tapi Teladani Perjuangannya.

Batam Center-Makassarglobal.com-“Ada malam-malam yang berlalu begitu saja. Namun ada pula malam ketika lantunan shalawat membuat hati seakan berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia.

Malam itu, di Komplek KDA Batam Center, gema Maulid Nabi Muhammad ﷺ mengalun di antara ratusan hati yang datang bukan sekadar untuk menghadiri sebuah acara, melainkan untuk kembali mengingat sosok manusia mulia yang sepanjang hidupnya berjuang untuk umat.

Di tempat itu, nama Rasulullah ﷺ tidak hanya disebut. Kisah kelahiran, akhlak, perjuangan dan kecintaan kepada beliau kembali dihidupkan melalui lantunan Maulid, zikir, shalawat dan tausiah keagamaan.

Suasana pun berubah menjadi begitu khidmat. Seolah setiap lantunan shalawat mengajak jamaah untuk meninggalkan sejenak kesibukan dunia dan bertanya kepada diri sendiri.

Jika kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, sudah sejauh mana akhlak beliau hidup dalam diri kita?
Pertanyaan itulah yang terasa kuat dalam peringatan Maulid Nabi yang digelar Majelis Hubbu Rasul dan Majelis Gahwa Wal Buhur Batam Center, selepas salat Magrib berjamaah.

Pimpinan kedua majelis tersebut, Haji Rahmat, menegaskan bahwa Maulid Nabi tidak boleh dipahami sebatas tradisi yang datang setiap tahun.

Baginya, 12 Rabiul Awwal adalah momentum untuk membuka kembali lembaran kehidupan Rasulullah ﷺ, mengenal akhlaknya, memahami perjuangannya, sekaligus menanamkan kecintaan kepada beliau di dalam hati.

“Tujuan kami mengadakan dan mengagungkan masuknya 12 Rabiul Awwal adalah agar kita bisa lebih dalam mengenal Nabi Muhammad ﷺ. Semoga dengan sebab perayaan Maulid yang kami lakukan ini menjadi salah satu sebab kita mendapatkan syafaat Nabi Muhammad ﷺ,” ujar Haji Rahmat.

“Jangan Hanya Mengenal Nama Nabi”

Ada pesan sederhana namun mendalam yang disampaikan Haji Rahmat kepada jamaah.

Menurutnya, mengenal Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya mengetahui nama, kelahiran dan sejarah beliau. Lebih dari itu, umat harus berusaha mengenal sosok dan perjuangan Rasulullah ﷺ untuk umatnya.

“Kita jangan hanya mengenal nama Nabi Muhammad, tetapi mari kita mengingat sosok dan perjuangan beliau untuk umatnya,” pesannya.

Pesan tersebut seakan menjadi inti dari seluruh rangkaian Maulid malam itu.

Sebab cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar ungkapan yang keluar dari lisan. Cinta semestinya melahirkan kerinduan untuk meneladani akhlaknya.

Ketika Rasulullah ﷺ mengajarkan kesabaran, umat belajar bersabar.
Ketika beliau mengajarkan kasih sayang, umat belajar mengasihi.
Ketika beliau mengajarkan kejujuran, umat belajar meninggalkan kebohongan.
Dan ketika beliau mengajarkan persaudaraan, umat belajar menjaga sesama.

Di situlah Maulid menemukan maknanya yang paling dalam: bukan hanya mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ, tetapi berusaha menghadirkan keteladanan beliau dalam kehidupan.

Haji Rahmat menegaskan, Maulid bukan semata persoalan budaya.
“Maulid bukan hanya sekadar budaya, tetapi untuk mengingat kelahiran Nabi Muhammad ﷺ,” katanya.

Saat Hati Diajak Kembali Kepada Rasulullah ﷺ
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah Habaib dan ustaz, di antaranya Habib Mustofa bin Abdullah Alaydrus dari Jakarta, Habib Muh Reza bin Muhsin Alhamid dari Tegal, Habib Muh Rais Alhamid dari Makassar, serta sejumlah Habaib dan ustaz lainnya.

Dalam tausiyahnya, Habib Mustofa bin Abdullah Alaydrus membawa jamaah kepada satu hal yang sering terlupakan dalam kehidupan: menjaga hati.

Menurutnya, hati harus senantiasa dijaga agar tetap memiliki hubungan spiritual dengan Rasulullah ﷺ.

Ia pun mengajak jamaah memperbanyak shalawat.

“Penting bagi kita menjaga hati agar selalu tersambung kepada Nabi. Orang yang selalu bershalawat, maka dia akan mengetahui segala kekurangannya,” tutur Habib Mustofa.

Kalimat itu seakan menjadi tamparan lembut bagi siapa saja yang hadir.

Sebab manusia sering kali begitu sibuk melihat kekurangan orang lain, tetapi lupa memeriksa dirinya sendiri.

Shalawat mengajarkan manusia untuk kembali bercermin.

Semakin sering seseorang mengingat Rasulullah ﷺ, semakin besar pula harapannya untuk memperbaiki akhlak dan kehidupannya.

Maulid dan Harapan Mendapat Syafaat
Dalam rangkaian kegiatan tersebut juga disampaikan sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Sayidina Ali radhiyallahu ‘anhu mengenai keutamaan mengagungkan Maulid Nabi Muhammad ﷺ.

Terlepas dari berbagai riwayat dan penjelasan yang disampaikan, semangat utama yang terasa dalam kegiatan tersebut adalah bagaimana umat terus menanamkan rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ.

Sebab bagi seorang Muslim, Rasulullah ﷺ bukan sekadar tokoh sejarah.

Beliau adalah teladan.
Beliau adalah pembawa risalah.
Beliau adalah sosok yang menjadi jalan bagi umat untuk mengenal ajaran Islam.

Karena itu, mengenang beliau semestinya tidak hanya melahirkan kegembiraan, tetapi juga menghadirkan kesadaran untuk memperbaiki diri.

Haji Yusuf: Ada Pahala di Balik Tangan yang Membantu Syiar
Di tempat yang sama, tokoh agama Haji Yusuf turut menyampaikan mengenai keutamaan membantu terselenggaranya kegiatan Maulid Nabi.

Ia menyampaikan sebuah perkataan yang dinisbatkan kepada Sayidina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengenai keutamaan orang yang mengeluarkan hartanya untuk kegiatan Maulid.

Pesan itu sekaligus mengingatkan bahwa sebuah majelis tidak pernah berdiri hanya karena satu orang.
Ada jamaah yang hadir.

Ada yang menyediakan tempat.
Ada yang membantu kebutuhan kegiatan.

Ada yang menyumbangkan tenaga.
Ada pula yang memberikan rezekinya untuk mendukung syiar.
Semuanya menjadi bagian dari sebuah kebersamaan dalam menghidupkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

Tidak Hanya Sekali Setahun
Haji Rahmat menjelaskan, kegiatan Maulid di Majelis Hubbu Rasul tidak hanya dilakukan ketika memasuki bulan Rabiul Awwal.

Pembacaan Maulid dilaksanakan secara rutin setiap bulan.

Sementara setiap pekan jamaah juga menggelar zikir berjamaah di Majelis Gahwa Wal Buhur.

Menurutnya, hal tersebut menjadi ikhtiar agar kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak berhenti sebagai euforia peringatan.

Sebab cinta yang hanya muncul setahun sekali adalah cinta yang perlu terus dirawat.

Cinta kepada Rasulullah ﷺ harus dibawa pulang dari majelis.

Masuk ke rumah.

Masuk ke dalam keluarga.

Masuk ke dalam pergaulan.

Dan akhirnya tercermin dalam akhlak sehari-hari.

Ketika Acara Berakhir, Apa yang Tersisa?
Malam semakin larut.

Lantunan Maulid dan shalawat akhirnya berhenti.

Jamaah perlahan meninggalkan tempat kegiatan.

Namun ada sesuatu yang seharusnya tidak ikut berakhir malam itu.

Cinta kepada Rasulullah ﷺ.

Sebab Maulid bukan hanya tentang bagaimana kita memperingati kelahiran seorang Nabi.

Maulid adalah tentang bagaimana kita kembali bertanya kepada hati:
Apakah kita benar-benar mengenal Rasulullah ﷺ?

Apakah kita mencintai beliau hanya dengan lisan, atau sudah berusaha meneladani akhlaknya?

Dan yang paling penting:

Ketika Maulid telah usai dan suara shalawat telah sunyi, apakah kehidupan kita menjadi sedikit lebih baik karena telah mengingat Rasulullah ﷺ?

Haji Rahmat berharap, dari majelis-majelis seperti inilah lahir generasi yang bukan hanya pandai menyebut nama Rasulullah ﷺ, tetapi juga berusaha membawa akhlak beliau dalam kehidupan.
Karena pada akhirnya, Maulid bukan tentang seberapa meriah sebuah perayaan.

Maulid adalah tentang seberapa dalam cinta itu menetap di hati—dan seberapa jauh cinta itu mengubah kehidupan seseorang.
Malam boleh berakhir. Shalawat boleh mereda.

Jamaah boleh kembali ke rumah. Tetapi semoga nama Rasulullah ﷺ tetap hidup di dalam hati, dan akhlaknya tetap menjadi cahaya dalam setiap langkah kehidupan.Tandanya.”(Reda)” M.R.I.

Editor : MZ.Nurdin Achmad
Laporan : Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *