Dari sebuah dusun di pelosok Gowa, kepemimpinan diuji bukan oleh banyaknya kata, melainkan oleh siapa yang bersedia turun tangan ketika persoalan datang.
Gowa- Makassarglobal.com-“Tidak ada panggung besar. Tidak ada seremoni dengan tepuk tangan panjang. Hanya tanah, tumpukan material, saluran air yang tersumbat, serta puluhan warga yang memilih turun tangan.
Namun dari tempat sederhana itulah sebuah pesan besar lahir: sebuah kampung tidak selalu menunggu pemerintah menyelesaikan persoalannya.

Ketika kepedulian tumbuh, masyarakat mampu bergerak dengan kekuatannya sendiri.
Senin, 30 Agustus 2026, warga Dusun Tangkeballa, Desa Tanabangka, Kecamatan Bajeng Barat, Kabupaten Gowa, bergotong royong membersihkan drainase di kawasan Padat Karya.
Tumpukan material yang menutupi saluran air dibersihkan satu per satu. Endapan digali, material dikumpulkan, kemudian diangkut menuju tempat pembuangan yang telah disediakan.

Di antara aktivitas itu, terlihat pemandangan yang barangkali sederhana tetapi memiliki makna besar: tua dan muda, laki-laki dan perempuan, bekerja dalam satu barisan.
Ada yang menggali.
Ada yang mengumpulkan.
Ada yang mengangkut.
Tidak ada yang bertanya siapa yang paling penting.
Semua mengambil bagian.

Ketika Kepemimpinan Tidak Berjarak
Di tengah kegiatan tersebut, Lukman Dg. Siriwa, yang dipercaya Pemerintah Desa Tanabangka untuk mengayomi masyarakat Dusun Tangkeballa, hadir bersama warga.
Di tingkat masyarakat paling bawah, kepemimpinan sering kali tidak diukur dari panjangnya pidato atau banyaknya program yang disebutkan.
Ia diukur dari hal yang jauh lebih sederhana: apakah seorang pemimpin hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Membersihkan drainase mungkin bukan pekerjaan yang monumental.
Tetapi bagi sebuah kampung, saluran air yang kembali terbuka berarti aliran air dapat berjalan lebih baik dan lingkungan menjadi lebih terawat.
Dan di balik pekerjaan fisik tersebut terdapat sesuatu yang jauh lebih penting: tumbuhnya kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.

Tangkeballa dan Pelajaran tentang Kekuatan Kolektif
Apa yang dilakukan warga Tangkeballa memperlihatkan wajah lain pembangunan dari tingkat paling dasar.
Pembangunan tidak selalu dimulai dengan proyek besar.
Tidak selalu membutuhkan anggaran fantastis.
Kadang ia dimulai ketika seseorang mengambil cangkul, seorang warga mengangkat material, dan orang-orang lainnya datang membantu tanpa diminta berkali-kali.

Gotong royong menjadi bahasa yang dipahami semua orang.
Ia menghapus batas usia, pekerjaan, bahkan peran sosial.
Yang tersisa hanya satu identitas: warga yang peduli terhadap kampungnya.
Antusiasme masyarakat dalam kegiatan tersebut menjadi modal sosial yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Sebab lingkungan yang bersih dan terawat tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi juga dari kesadaran masyarakat yang menjaga hasilnya.
Bukan Sekadar Membersihkan Drainase
Pada akhirnya, kisah dari Tangkeballa bukan semata tentang lumpur, material, atau saluran air yang tersumbat.
Ini adalah kisah tentang kepedulian.
Tentang masyarakat yang memilih bergerak daripada menunggu.
Tentang pemimpin wilayah yang hadir di tengah warga.
Dan tentang sebuah nilai lama yang ternyata masih sangat relevan di tengah kehidupan modern: gotong royong.
Dari sebuah dusun kecil di Kabupaten Gowa, pesan itu terasa sederhana tetapi kuat:
Jika masyarakat mau bergerak bersama, persoalan yang berat pun memiliki jalan keluar.
Sebab terkadang, perubahan terbesar tidak dimulai dari ruang rapat.
Ia dimulai dari jalan kampung—ketika warga berhenti mengeluh, mengambil alat kerja, lalu bersama-sama membersihkan apa yang menghambat kehidupan mereka.”(Red)”
Penulis. MZ.Nurdi Achmad
Sumber. Abd.Kadir Dg. Ngawing
Laporan.Redaksi.
















