Pelukan Terakhir Seorang Ibu: Cinta Yang Tetap Bertahan di Tengah Reruntuhan Gempa NTT

Flores,NTT.-Makassaglobal.com.-“Ada kisah dari balik bencana yang terkadang tidak cukup hanya dibaca dengan mata. Ia harus direnungkan dengan hati.
Di tengah duka gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur, terselip sebuah pemandangan yang begitu memilukan sekaligus menggambarkan betapa kuatnya cinta seorang ibu kepada anaknya.
Di antara reruntuhan bangunan, seorang ibu ditemukan masih mendekap erat anaknya yang masih kecil.

Rumah mereka telah runtuh.
Tempat berlindung telah berubah menjadi puing-puing.
Namun, satu hal seakan tidak ikut runtuh: pelukan seorang ibu kepada anaknya.

Dalam situasi ketika bumi berguncang dan semuanya terjadi begitu cepat, sang ibu seolah tidak lagi memikirkan dirinya sendiri.
Bukan harta yang hendak diselamatkan Bukan pakaian.
Bukan barang berharga.
Hanya satu yang ada dalam pikirannya: anaknya.Ia memeluk tubuh kecil itu sekuat yang ia mampu, seolah ingin menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai terakhir.
Seakan tanpa kata, pelukannya berkata:

“Kalau sesuatu harus terjadi, biarlah aku yang lebih dulu menjagamu.-”Dan akhirnya, pelukan itu menjadi saksi bisu dari sebuah cinta yang tidak mengenal batas.
Tangan mungil sang anak yang masih menggenggam pakaian ibunya menjadi gambaran betapa erat hubungan keduanya—sebuah pemandangan yang mungkin sederhana, tetapi mampu membuat siapa pun terdiam dan menundukkan kepala.

Di balik tragedi itu, ada sebuah pesan yang jauh lebih dalam untuk kita semua.-“Tentang kesempatan yang sering kita anggap masih panjang.
Kita sering merasa masih memiliki banyak waktu.
Kita menunda pulang.
Menunda menelepon.
Menunda mencium tangan ibu.
Menunda mengatakan, “Ibu, aku sayang Ibu.”
.
Kita terlalu sibuk mengejar kehidupan, pekerjaan, harta dan berbagai urusan dunia, hingga terkadang lupa bahwa orang-orang yang paling kita cintai tidak pernah dijanjikan akan selalu bersama kita.
Padahal seorang ibu tidak pernah meminta balasan atas seluruh pengorbanannya. Ia hanya ingin melihat anaknya sehat. Ia hanya ingin mendengar kabarnya.Ia hanya ingin tahu bahwa anak yang dulu digendongnya kini baik-baik saja.Namun, waktu tidak pernah berhenti.

Dan kematian tidak pernah mengirimkan pesan terlebih dahulu.
Karena itu, jangan tunggu sebuah bencana datang untuk menyadarkan kita tentang arti sebuah pelukan.
Jangan tunggu kursi ibu kosong untuk merindukan kehadirannya.
Jangan tunggu suaranya hanya tersisa dalam ingatan.
Dan jangan tunggu namanya hanya bisa kita sebut dalam doa untuk menyadari bahwa dahulu kita pernah memiliki kesempatan untuk memeluknya.

Jika hari ini ibu masih ada, pulanglah.
Jika belum bisa pulang, teleponlah.
Jika masih bisa bertemu, peluklah.
Jika tangannya masih bisa digenggam, ciumlah tangannya.
Dan jika masih ada kesempatan untuk mengucapkan cinta, jangan menundanya.

Katakanlah Ibu, terima kasih. Aku sayang Ibu.-“Sebab bagi kita, mungkin itu hanya sebuah pelukan sederhana.-“Tetapi bagi seorang ibu, bisa jadi pelukan itu adalah salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidupnya.
Kelak, ketika waktu memisahkan kita, bukan harta yang paling kita rindukan.

Bukan rumah yang paling kita cari.
Melainkan suara ibu, senyumnya, tangannya, dan pelukan yang dahulu pernah kita miliki.
Kisah ini bukan sekadar tentang gempa.-“Ini tentang kehilangan.
Tentang kasih sayang.
Tentang pengorbanan.
Dan tentang betapa berharganya kesempatan yang masih kita miliki hari ini.

Jangan terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa memeluk orang yang menjadi alasan kita mengenal dunia.-“Turut berduka cita sedalam-dalamnya atas seluruh korban gempa Nusa Tenggara Timur.-“Semoga mereka yang telah berpulang mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan serta keikhlasan.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua:
Selagi ibu masih ada, jangan pernah merasa pelukannya adalah hal biasa. Karena suatu hari nanti, pelukan itulah yang mungkin menjadi hal paling kita rindukan.”(Red)’

Editor : MZ.Nurdin Achmad
Pimpinan Redaksi PR.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *