Oleh Nurul Jamiah Sidiq, M.Pd
Dosen PGPAUD FIP Uiversitas Negeri Makassar
Makassarglobal.com.-“Pendidikan sering kali dipahami sebatas proses transfer pengetahuan dan pencapaian target akademik. Nilai, angka, dan peringkat menjadi tolok ukur utama keberhasilan. Namun, ketika empati dan kemanusiaan terpinggirkan, pendidikan justru kehilangan makna paling dasarnya: memanusiakan manusia.
Relasi antara guru dan peserta didik sejatinya dibangun atas dasar saling menghormati. Guru bukan hanya penyampai materi, melainkan figur signifikan dalam pembentukan kepribadian dan kesehatan mental peserta didik. Setiap sikap, ucapan, dan cara guru merespons perilaku siswa akan membekas, bahkan jauh melampaui masa sekolah.
Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, relasi ini kerap bergeser menjadi relasi kekuasaan. Disiplin dipahami sebagai kontrol, ketertiban dimaknai sebagai kepatuhan mutlak, dan suara siswa dianggap sebagai pembangkangan. Dalam situasi seperti ini, empati sering kali dianggap sebagai kelemahan, bukan sebagai kekuatan pedagogik.
Ketikannya empati absen, komunikasi di ruang kelas menjadi kering dan penuh ketegangan. Guru mudah terpancing emosi, sementara siswa merasa tidak dipahami. Kondisi ini menciptakan jarak psikologis yang lebar dan membuka ruang bagi konflik. Padahal, pendidikan yang efektif justru lahir dari relasi yang hangat, aman, dan saling percaya.
Di sisi lain, perilaku siswa yang dinilai kurang sopan, agresif, atau melawan juga perlu dipahami secara lebih utuh. Peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam fase perkembangan emosi dan sosial. Mereka belajar mengelola marah, kecewa, dan frustrasi. Tanpa pendampingan yang tepat, emosi-emosi tersebut dapat muncul dalam bentuk perilaku yang tidak diharapkan.
Hal ini menunjukkan bahwa persoalan di sekolah tidak bisa disederhanakan sebagai kesalahan individu semata. Ada sistem pendidikan yang belum sepenuhnya memberi ruang bagi pengembangan kompetensi sosial-emosional, baik bagi guru maupun siswa. Pelatihan guru masih didominasi aspek teknis dan administratif, sementara pembinaan karakter sering berhenti pada slogan.

Sekolah seharusnya menjadi laboratorium empati—tempat setiap warga belajar memahami batas, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan konflik secara bermartabat. Budaya dialog perlu dibangun, bukan hanya antara guru dan siswa, tetapi juga dalam keseluruhan ekosistem sekolah. Kepala sekolah memiliki peran penting sebagai penjaga iklim psikologis dan etika profesional.
Pendidikan tanpa empati berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara kognitif, tetapi rapuh secara emosional. Lebih jauh, ia juga berpotensi menciptakan lingkaran kekerasan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kekerasan yang dialami di bangku sekolah sering kali meninggalkan luka yang sulit disembuhkan.
Oleh karena itu, sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada hakikatnya. Empati bukan tambahan, melainkan inti dari proses mendidik. Guru yang berempati bukan guru yang kehilangan wibawa, melainkan guru yang mampu membangun kewibawaan melalui keteladanan dan kebijaksanaan.
Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari apa yang diketahui peserta didik, tetapi dari bagaimana mereka memperlakukan sesama. Pendidikan yang berempati akan melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab..”(Red.)






