Gorontalo – Makassarglobal.com.-“Ada perpisahan yang tak pernah benar-benar siap diterima oleh hati. Ada kabar duka yang ketika sampai di telinga, seakan membuat waktu berhenti sejenak.
Begitulah suasana yang dirasakan keluarga besar Almarhumah Kartina Machmud, perempuan berusia 65 tahun yang kini telah menutup perjalanan hidupnya dan kembali menghadap Sang Pencipta, pada Sabtu, 12 September 2026, rumah duka di Kelurahan Tenilo, Kota Gorontalo, menjadi tempat terakhir keluarga memeluk kenangan.
Di sana, Almarhumah Kartina Machmud disemayamkan. Sosok yang dahulu hadir dengan senyum, keramahan, dan kepedulian kepada sesama, kini telah terbujur dalam keheningan. Yang tersisa hanyalah kenangan, air mata, dan doa yang terus dipanjatkan oleh mereka yang mencintainya.
Kabar kepergian itu turut menghentak hati Tajuddin Ngoyo, warga Kampung Borong Bila, Dusun Renggang, Desa Tanabangka, Kecamatan Bajeng Barat, Kabupaten Gowa. Sebagai besan, Tajuddin mengaku terpukul ketika menerima kabar dari putranya yang berada di Tenilo, Gorontalo, bahwa Kartina Machmud telah berpulang untuk selamanya.
Bagi Tajuddin, Kartina bukan sekadar seorang besan. Ia mengenangnya sebagai sosok perempuan yang ramah, sederhana, dan memiliki hati yang dekat dengan masyarakat kecil. Semasa hidupnya, Almarhumah dikenal memiliki kepedulian sosial dan tak segan membantu orang yang membutuhkan. Kebaikan itu, menurut Tajuddin, diberikan dengan ketulusan, tanpa menghitung imbalan dan tanpa menjadikan jasa sebagai alasan untuk dikenang.
Jejak pengabdian Almarhumah juga menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Ia pernah mengabdikan diri sebagai Linmas pada salah satu instansi pemerintah, menjalankan tugas yang mempertemukannya dengan masyarakat dalam berbagai keadaan. Dari pengabdian itu, tersimpan banyak kisah tentang bagaimana ia berusaha hadir ketika tenaganya dibutuhkan.
“Beliau orangnya sederhana, ramah dan suka membantu. Jiwa sosialnya sudah ada sejak muda. Apa yang bisa dibantu, ia bantu dengan tulus,” demikian kenangan Tajuddin tentang sosok besannya yang kini telah tiada.
Kini, semua cerita itu berubah menjadi kenangan. Suara yang dahulu terdengar, langkah yang dahulu terlihat, dan senyum yang dahulu menyapa, hanya tinggal dalam ingatan orang-orang yang pernah dekat dengannya.
Kartina Machmud meninggalkan putra-putri dan sejumlah cucu. Bagi mereka, kehilangan seorang ibu dan nenek bukanlah perkara sederhana. Ada ruang dalam keluarga yang tiba-tiba terasa kosong. Ada sosok yang tak akan lagi ditemui dalam keseharian, kecuali melalui kenangan dan doa.
Namun kematian adalah sebuah janji yang tak seorang pun dapat menghindarinya.
Pada waktunya, setiap insan akan meninggalkan dunia, membawa amal dan kebaikan yang pernah ditanam selama menjalani kehidupan.
Dan hari ini, keluarga hanya dapat melepas dengan hati yang berat.
Tak ada lagi tangan yang dapat digenggam.
Tak ada lagi suara yang dapat disapa. Tak ada lagi kesempatan untuk berkata, “Jangan pergi.”
Yang tersisa hanyalah doa.
Doa dari keluarga. Doa dari anak-anak dan cucu. Doa dari kerabat. Dan doa seorang besan yang dari kejauhan hanya mampu mengiringi perjalanan terakhir Almarhumah menuju tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Selamat jalan, Kartina Machmud.
Semoga perjalananmu menuju keabadian menjadi perjalanan yang penuh cahaya. Semoga segala kebaikan yang pernah engkau berikan kepada sesama menjadi amal yang terus mengalir. Semoga pengabdianmu kepada masyarakat menjadi catatan kebaikan di hadapan-Nya.
Dan kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah SWT memberikan kekuatan untuk menerima takdir ini dengan penuh keikhlasan.
Sebab terkadang, bentuk cinta terakhir kepada seseorang yang telah pergi bukanlah menahannya untuk tetap tinggal, melainkan mengikhlaskannya pulang dan mengiringinya dengan doa.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu ‘anha.”(Red)” MZ.NA
Laporan : Atmin Media.


















