-AKU PADAMU: Ketika Cinta LDR Menjadi Badai yang Tak Lagi Ditakuti”

 

Oleh MZ.Nurdin Achmad
Pimpinan Redaksi.

Gowa-makassarglibal.com-“Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah SWT atas segala karunia yang masih diberikan hingga hari ini. Sebuah unggahan dari Astriana Bembo Persit, 23 jam yang lalu, telah menyentuh banyak hati di media sosial. Bukan sekadar unggahan biasa, melainkan sebuah pengakuan syukur dari seorang istri prajurit yang telah melewati badai kehidupan. Dalam foto itu, tampak sosok Letnan Infanteri Iwan S.R bersama istrinya yang setia mendampingi dalam balutan hijau Persit, sebuah simbol kesetiaan yang tidak lekang oleh jarak dan waktu.

Dalam narasinya, Astriana menulis dengan jujur, _“Dulu iblis berbisik padaku, kamu tak akan mampu melawan badai, sekarang aku berbisik kepada iblis, akulah badainya.”_ Kalimat itu bukan kesombongan, melainkan wujud syukur yang paling dalam. Sebab hanya orang yang pernah hampir tenggelam yang tahu betapa berharganya nafas ketika kembali ke permukaan. Dulu, ketakutan itu nyata. Dulu, air mata itu pernah jatuh diam-diam. Namun hari ini, ia bersyukur karena Allah telah memberinya kekuatan untuk tidak menyerah pada bisikan yang melemahkan itu.

_“Ombak yang hampir menenggelamkan kemarin masih selamat, dan berniat menantangnya kembali, tidak ada kata takut dalam kisah cinta LDR-ku.”_ Inilah filosofi kehidupan yang sesungguhnya. Hidup tidak selalu tenang, seperti laut yang kadang bersahabat kadang mengamuk. Ombak itu pasti datang. Tetapi seorang istri prajurit belajar bahwa ombak bukan untuk dilawan dengan amarah, melainkan dihadapi dengan doa dan kesabaran. Jika kemarin ia hampir tenggelam dan masih selamat, itu karena ada tangan Tuhan yang menahannya. Dan jika hari ini ia berani menantang ombak itu kembali, itu karena ia sudah belajar bahwa badai tidak datang untuk menghancurkan, melainkan untuk mengajarkan cara berenang lebih kuat.

Ia pun menutup dengan kalimat yang sederhana namun sangat dalam, _“Bahaya itu nyata, takut itu pilihan. I love you suamiku, Letnan Infanteri Iwan S.R.”_ Bahaya dalam hubungan jarak jauh itu nyata. Rindu itu nyata. Sepi itu nyata. Tetapi ketakutan adalah pilihan. Astriana memilih untuk tidak menjadikan ketakutan sebagai rumahnya. Ia memilih syukur sebagai tempat pulang. Ia memilih percaya bahwa jarak yang memisahkan raga, justru mendekatkan hati dalam doa. Sebab cinta yang dijaga oleh doa, tidak akan pernah benar-benar jauh.

Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa karunia terbesar bukan ketika hidup tanpa masalah, melainkan ketika kita masih diberi kekuatan untuk bersyukur di tengah masalah. Bersyukur karena masih memiliki suami yang berjuang untuk negara. Bersyukur karena masih diberi hati yang kuat untuk menunggu. Bersyukur karena masih bisa berkata, “Aku padamu” dengan penuh cinta dan keikhlasan. Semoga cinta Astriana dan Letnan Iwan S.R senantiasa dijaga Allah SWT, menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, dan menjadi inspirasi bagi seluruh keluarga besar Persit di Indonesia, bahwa cinta yang disyukuri, tidak akan pernah kalah oleh badai apapun.-“(Red)”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *