MKS – makassarglobal.-“Mahasiswa tidak boleh lagi hanya menjadi penonton di tengah hiruk-pikuk demokrasi. Mereka harus berdiri di garis depan sebagai penjaga moral, pengawal kekuasaan, dan perawat marwah bangsa. Pesan yang menggugah itu disampaikan Dr. Nani Harlinda Nurdin, http://M.Si., dalam Seminar Nasional ke-27 Forum Komunikasi Dekan FISIP/Ketua STISIP Perguruan Tinggi Swasta se-Indonesia (FK-DKISIP), yang berlangsung secara daring pada 18 Oktober 2026. Di hadapan 443 peserta dari berbagai wilayah Indonesia, Nani yang merupakan dosen FISIP Universitas Indonesia Timur Makassar, mantan Dekan FISIP UIT periode 2019-2025, sekaligus Pengurus Pusat FK-DKISIP periode 2024-2028 dan Pengurus Wilayah VII (Sulawesi), membawakan materi bertajuk “Dari Sumpah Pemuda ke Sumpah Demokrasi: Mahasiswa sebagai Penjaga Moral, Pengawal Kekuasaan, dan Perawat Marwah Bangsa”, dalam seminar yang mengangkat tema “Spirit Sumpah Pemuda dalam Peran Mahasiswa sebagai Kekuatan Moral untuk Memelihara Marwah Negara Demokrasi”.

Bagi Nani, persatuan bangsa tidak akan pernah hidup jika demokrasi hanya diisi oleh keramaian suara tanpa isi. Mahasiswa, tegasnya, harus mengambil peran melalui pengetahuan, integritas, dan keberanian menyuarakan kepentingan rakyat. “Tugas kita hari ini adalah menjaga agar persatuan bangsa tetap hidup dalam demokrasi yang bermartabat. Mahasiswa jangan hanya menjadi penonton, tetapi jadilah kekuatan moral dan sosial-politik yang berani membentuk opini publik dengan pengetahuan, mengawal kekuasaan dengan integritas, dan mendorong perubahan kebijakan demi kepentingan rakyat,” ujarnya dengan penuh penekanan.

Ia kemudian menghantam satu kebiasaan lama gerakan mahasiswa yang kerap terjebak pada kerasnya teriakan, bukan kuatnya gagasan. Kekuatan mahasiswa, menurutnya, tidak pernah diukur dari seberapa lantang mereka berteriak di jalanan, melainkan dari seberapa kokoh argumentasi yang mereka bangun dan seberapa nyata kontribusi yang mereka berikan bagi bangsa. “Sebab, kekuatan mahasiswa bukan semata-mata terletak pada seberapa keras suaranya terdengar, melainkan pada seberapa kuat argumentasinya dan seberapa nyata kontribusinya bagi bangsa,” kata Nani, yang disambut antusias peserta seminar yang menghadirkan lima narasumber dan ditutup dengan sesi tanya jawab bersama lima perwakilan mahasiswa.

Puncak pesannya justru paling menohok. Nani mengingatkan bahwa idealisme yang berhenti sebagai slogan, kritik yang berhenti sebagai kemarahan, dan keberanian yang padam ketika sorotan kamera meredup, adalah pengkhianatan terhadap Sumpah Pemuda itu sendiri. Persatuan dalam demokrasi, tegasnya, bukan berarti meniadakan perbedaan pendapat, tetapi mengelolanya melalui dialog, argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama. “Jangan biarkan idealisme berhenti sebagai slogan, kritik berhenti sebagai kemarahan, dan keberanian berhenti ketika sorotan meredup. Teruslah berpikir, teruslah bersuara, dan teruslah mengawal perubahan, karena marwah demokrasi adalah tanggung jawab kita bersama,” serunya.

Melalui materi tersebut, Nani mengajak mahasiswa untuk menjadikan pengetahuan, integritas, dan konsistensi sebagai landasan partisipasi dalam kehidupan publik. Semangat Sumpah Pemuda, menurutnya, tidak cukup hanya diperingati setiap 28 Oktober, tetapi harus dihidupkan kembali melalui tindakan nyata: mengawal kekuasaan agar tidak sewenang-wenang, merawat persatuan agar tidak retak, dan menjaga marwah demokrasi agar tetap bermartabat. Dari Sumpah Pemuda menuju Sumpah Demokrasi, mahasiswa hari ini ditantang untuk membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pewaris sejarah, melainkan penentu masa depan bangsa.Imbuhnya.”(Red)”
Laporan : Tim Redaksi

















