Oleh: Nurul Jamiah Sidiq, S.Pd., M.Pd
Dosen PGPAUD FIP Universitas Negeri Makassar
Gowa.Makassarglobal.com.p”Belakangan ini, dunia pendidikan dihadapkan pada persoalan yang tak lagi sederhana. Hubungan antara guru, murid, dan orang tua semakin sering diuji oleh gesekan sosial yang muncul di tengah derasnya arus informasi. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman dan mendidik, kadang justru berubah menjadi arena konflik yang tak diinginkan.
Fenomena ini menandakan bahwa kita tengah mengalami krisis empati. Banyak pihak lebih cepat menilai daripada memahami. Guru yang menegur dianggap keras, anak yang bersalah dianggap korban, dan orang tua pun sering merasa perlu turun tangan tanpa melihat konteks pembelajaran nilai di balik peristiwa. Padahal, pendidikan sejatinya bukan hanya soal pengetahuan dan disiplin, tetapi juga proses menumbuhkan kemanusiaan. Sekolah seharusnya menjadi rumah empati, tempat setiap individu belajar memahami perasaan dan sudut pandang orang lain. Guru perlu mendidik dengan hati, murid perlu belajar dengan rasa hormat, dan orang tua perlu mendampingi dengan kebijaksanaan.
Tegas tidak berarti keras, dan lembut tidak selalu lemah. Keduanya perlu hadir berdampingan agar pendidikan berjalan manusiawi. Di tengah krisis empati ini, kita perlu kembali mengingat: tugas utama sekolah bukan hanya mencetak anak yang cerdas, tetapi juga anak yang peka terhadap sesama.
Jika empati kembali menjadi napas dalam pendidikan, maka sekolah sungguh akan menjadi rumah kemanusiaan tempat semua belajar, tumbuh, dan saling memahami. Imbuhnya.”(Red)










