Oleh Dr. Muhammad Akil Musi, S.Pd., M.Pd
(Ketua Jurusan PGPAUD FIP Universitas Negeri Makassar)
Makassar.makassarglobal.com.”Platform Zoom sebagai sarana pembelajaran dan diskusi ilmiah. kegiatan ini di laksanakan secara daring melalui siaran langsung di YouTube serta “Webinar Series 2” yang diselenggarakan pada Sabtu, 22 November 2025.
Permasalahan pendidikan teladan pada era modern saat ini semakin kompleks dan membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat, khususnya keluarga dan lembaga pendidikan. Perkembangan teknologi yang begitu cepat menyebabkan banyak anak belajar dari apa yang mereka lihat di internet,media sosial, dan lingkungan luar yang tidak lagi mudah dikendalikan oleh orang tua.
Keteladanan yang seharusnya menjadi inti dari pendidikan justru mulai hilang karena figur yang seharusnya menjadi panutan tidak mampu menghadirkan contoh yang baik secara konsisten. Banyak orang tua terlalu sibuk bekerja, sehingga kurang terlibat dalam membentuk karakter anak melalui contoh sehari-hari.
Sementara itu, sebagian guru hanya memberikan instruksi dan nasihat secara verbal tanpa mempraktikkan nilai-nilai yang disampaikan, sehingga pesan moral menjadi kurang efektif dan kehilangan pengaruhnya. Belum lagi munculnya budaya instan, gaya hidup konsumtif, serta menurunnya kualitas interaksi sosial akibat dominasi dunia digital, yang menyebabkan anak kurang mampu membedakan perilaku yang pantas ditiru dan yang tidak.
Fenomena ini menyebabkan pendidikan teladan mengalami tantangan besar dan harus diperbaiki dengan cara mengembalikan keteladanan sebagai metode pendidikan utama.
Konsep mendidik dengan teladan atau uswah hasanah merupakan metode pendidikan yang mengedepankan tindakan nyata dibandingkan sekadar ceramah atau instruksi. -“Dalam Islam, konsep ini merupakan dasar utama pembentukan akhlak.
Rasulullah SAW diangkat oleh Allah sebagai contoh terbaik bagi umat, bukan hanya melalui perkataan, tetapi juga melalui perilaku beliau dalam kehidupan sehari-hari. -“Konsep ini menekankan bahwa anak-anak adalah peniru yang sangat kuat; mereka belajar melalui pengamatan mendalam, bukan dari teori. Oleh karena itu, pendidikan dengan teladan menuntut pendidik untuk menjadi model karakter yang ingin dibentuk: jujur, disiplin, sabar, bertanggung jawab, dan penuh kasih sayang. Keteladanan bukan sekadar suatu tindakan sesaat, namun harus menjadi kebiasaan yang konsisten agar anak menilai bahwa nilai tersebut memang penting.
Bentuk mendidik teladan sangat luas dan dapat diterapkan dalam berbagai situasi kehidupan. Misalnya, orang tua menunjukkan perilaku jujur saat bertransaksi, mengembalikan barang yang bukan miliknya, dan tidak melakukan kebohongan meski dalam persoalan kecil. Guru menunjukkan kedisiplinan dengan datang tepat waktu, menepati janji kepada siswa, bersikap adil dalam memberikan penilaian, dan tidak membeda-bedakan perlakuan kepada murid.
Keteladanan juga dapat muncul dalam hal mengontrol emosi; seorang pendidik yang mampu menahan amarah di depan anak secara tidak langsung sedang mengajarkan bagaimana cara mengelola emosi dengan baik. Selain itu, teladan juga dapat ditunjukkan melalui kebiasaan ibadah seperti shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta menggunakan kata-kata yang baik dalam berbicara. Ketika anak melihat rutinitas ini setiap hari, mereka akan menerimanya sebagai standar perilaku yang benar, lalu lambat laun menirunya secara alami. Inilah kekuatan mendidik melalui teladan—ia bekerja secara halus, namun hasilnya sangat kuat dan tahan lama.
Dasar hukum mendidik dengan teladan sangat kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Ayat paling terkenal yang menjadi sandaran utama adalah QS. Al-Ahzab: 21, yang menyatakan bahwa Rasulullah adalah uswah hasanah bagi umat manusia. Ayat ini tidak hanya memuji akhlak Rasulullah, tetapi juga menjadi pedoman bahwa seluruh umat Islam harus mendidik berdasarkan keteladanan sebagaimana Nabi mendidik sahabatnya. Selain itu, QS. Luqman: 13–19 menunjukkan bagaimana Luqman memberikan pendidikan kepada anaknya dengan cara yang lembut, penuh kebijaksanaan, dan juga berdasarkan contoh hidupnya sebagai hamba Allah yang patuh.
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa pendidikan berbasis teladan adalah ajaran utama dalam Islam. Dalam hadis, Rasulullah bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Hadis ini menunjukkan bahwa keteladanan adalah inti dari misi kenabian.
Banyak hadis lain yang menegaskan amanah orang tua dan pendidik dalam memberikan teladan. -“Misalnya, hadis tentang kepemimpinan menyatakan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, termasuk kepemimpinan orang tua terhadap anak-anaknya. Ini menunjukkan bahwa memberi teladan adalah amanah besar yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Terdapat banyak ayat dan hadis yang secara langsung menekankan pentingnya mendidik dan memberikan keteladanan. Dalam Al-Qur’an, ada ayat yang memerintahkan agar seseorang menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini menegaskan bahwa mendidik anak adalah kewajiban utama orang tua, dan mendidik tidak dapat dilakukan hanya dengan kata-kata, tetapi harus melalui pembiasaan dan keteladanan. Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda bahwa anak lahir dalam keadaan fitrah, dan orang tuanyalah yang membentuknya menjadi baik atau buruk. Artinya, peran teladan orang tua adalah penentu utama kualitas moral seorang anak. Hadis tentang kelembutan juga menunjukkan bahwa pendidikan harus dilakukan tanpa kekerasan. Rasulullah selalu menggunakan kelembutan, kesabaran, dan perilaku yang baik dalam mendidik umatnya, sehingga pendidikan berbasis teladan menjadi metode paling sesuai dengan ajaran Islam.
Penerapan mendidik dengan teladan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk praktis dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, dengan menciptakan lingkungan rumah yang penuh contoh baik, di mana setiap anggota keluarga saling menghormati dan menghindari pertengkaran di depan anak. Kedua, membiasakan anak melihat langsung perilaku baik orang tua, seperti mengucapkan salam, meminta maaf ketika salah, serta menunjukkan rasa terima kasih. Ketiga, memberikan teladan dalam pengelolaan waktu—misalnya, menyelesaikan tugas tepat waktu, bangun pagi, dan tidak menunda pekerjaan. Keempat, menunjukkan cara menyelesaikan masalah tanpa kekerasan, melibatkan anak dalam diskusi, dan mengajarkan musyawarah. Kelima, menghadirkan kebiasaan ibadah yang konsisten sehingga anak merasa bahwa ibadah adalah bagian dari hidup, bukan beban. Keenam, memberikan apresiasi ketika anak meniru perilaku baik, agar mereka merasa dihargai dan termotivasi untuk terus berbuat baik. Semua penerapan ini harus dilakukan secara terus-menerus, karena keteladanan tidak dapat dibangun dalam waktu singkat, namun membutuhkan proses panjang dan konsistensi.
Akhlak yang harus dikedepankan dalam mendidik anak meliputi berbagai aspek yang mencakup hubungan dengan Allah, dengan diri sendiri, dan dengan sesama manusia. Akhlak kepada Allah merupakan fondasi utama, seperti konsisten beribadah, bersyukur, bertaqwa, dan menjauhi perbuatan dosa. Akhlak kepada diri sendiri meliputi menjaga kebersihan, kesehatan, kemandirian, kedisiplinan, dan rasa percaya diri.
Sementara itu, akhlak kepada sesama sangat luas, seperti jujur dalam berbicara dan berbuat, amanah dalam memegang tanggung jawab, hemat, sabar, sopan santun, rendah hati, kasih sayang, dan berani meminta maaf. Akhlak tolong-menolong, menghormati orang tua, menghargai guru, serta menjaga lingkungan juga menjadi nilai penting yang harus ditanamkan sejak dini. Semua akhlak ini hanya dapat ditanamkan secara efektif melalui keteladanan yang diberikan secara nyata oleh pendidik. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kokoh akhlaknya jika ia melihat contoh teladan dari lingkungan terdekatnya. “Red.










