Kebersamaan Adalah Pelita Cahaya Membuat Menciptakan Kehangatan Dalam Perjuangan.

Gowa.-makassarglibal.com.-“Dalam sebuah perjalan karir tentu saja Tak semudah untuk meraih impian bila tidak di dukung dengan loyal litas dan perjuangan dan do’a, di sertai usaha yang tak henti, dari itu sesosok pejuang sejati tak ubahnya Seorang Pelaut Ulung bila tak berani menantang Hempasan Ombak maka itu bukam pelaut ulung, bila berani Menantang Hempasan Ombak dan berani melewati tumpukan karang karang yang menjulang maka itulah di sebut pelaut ulung.

Begitu Pula dalam laga di Arena Bola Politik bila bola itu tidak berbagi kepada tim maka bola itu tetap berada di tangan lawan. Maka peran pelatih harus benar-benar Tulus ikhlas dan jujur dalam melatih Timnya.

Seperti suasana suhu politik di tengah tengah masyarakat tangke bajeng konon isu yang sedang jadi rumor yang yerhembus bisikan yang dapat mengguncang pertahanan petahana yang kini masih aktif.

Tapi sayang walaupun bisikan bisikan
Itu terhembus Tidak dapat di koyak oleh rumor rumor yang tidak masuk dalam kolifikasi sesungguhnya rumor itu berlaku pada sekelompok kecil yang selama ini jadi benalu penghalang kelanjutan pembangunan.

Dan untuk menarik hal tersebut di atas Komunitas tangke bajeng bersatu menjalin Kebersamaan adalah pelita yang membuat perjalanan terasa lebih hangat, di dalamnya ada tawa yang menguatkan, ada bahu yang siap bersandar, dan ada doa yang saling menjaga.

Saat kita berjalan bersama, beban menjadi ringan, luka menjadi pelajaran, dan harapan tumbuh lebih subur.
Sebab dalam kebersamaan, kita tidak hanya berbagi langkah namun kita berbagi makna hidup.

Yang terpenting terus menjalin silaturahmi yang terus terjaga adalah seperti sungai bening yang tak pernah kering—mengalirkan kesejukan di setiap hati yang saling menyapa. Ia tumbuh dari niat tulus, dipelihara oleh saling pengertian, dan dikuatkan oleh doa-doa yang diam-diam kita panjatkan satu sama lain.

 

Dalam silaturahmi, jarak bukanlah penghalang. Waktu boleh berlalu, kesibukan boleh datang dan pergi, namun kasih sayang tetap menemukan jalannya untuk bertemu. Senyum sederhana, kabar yang ditanyakan, dan uluran tangan di saat sulit menjadi jembatan yang menghubungkan jiwa-jiwa yang pernah berjalan bersama.

Ketika silaturahmi terjaga, luka menjadi lebih mudah sembuh, perbedaan terasa lebih indah, dan kebersamaan menjadi sumber kekuatan. Di sanalah kita belajar bahwa hidup bukan tentang berjalan sendiri, melainkan tentang saling menguatkan agar langkah kita sampai pada tujuan yang penuh berkah.-“Red”

karya. : MZ.Nurdin Achmad
Pewarta : Tim ,Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *