Gowa – makassarglobal.com.-“Di tengah hiruk pikuk dunia yang semakin bising oleh pujian, cacian, dan perebutan pengakuan, sebuah kalimat sederhana muncul dari akun M Jafar Sainuddin dan langsung menyentuh banyak hati:
Kalimat itu bukan sekadar status. Ia adalah filsafat hidup. Sebuah pengakuan jujur bahwa manusia pada akhirnya akan lelah jika terus berharap pada manusia.

Dalam poster yang diunggahnya, sosoknya tampil menatap jauh ke depan, dengan latar Merah Putih, Garuda Pancasila, dan logo “Poros Rakyat Indonesia – Bersama Rakyat Untuk Indonesia.” Tatapan itu bukan tatapan orang yang mencari panggung. Itu tatapan orang yang sedang berproses. Orang yang sudah belajar bahwa perjuangan untuk rakyat tidak selalu harus ramai, tidak selalu harus disoraki, dan tidak selalu harus dipahami semua orang.
Filsafat ini mengajarkan kita tiga hal yang dalam:
1. Manusia Bisa Pergi, Sang Pencipta Tidak Pernah Pergi.
Teman bisa berubah. Kawan seperjuangan bisa berbalik arah. Orang yang dulu memuji, bisa besok mencaci. Tetapi Sang Pencipta tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang sedang berproses. Ketika semua pintu manusia tertutup, pintu langit selalu terbuka. Inilah ketenangan tertinggi: tidak lagi menggantungkan harapan pada manusia.

2. Proses Itu Menyakitkan, Tetapi Itulah Jalan Menuju Kehidupan Yang Berbeda.
Tidak ada kehidupan yang berubah tanpa proses yang menyakitkan. Seperti emas yang harus dibakar dulu sebelum menjadi perhiasan, manusia pun harus ditempa oleh ujian, fitnah, kesendirian, dan kekecewaan. Jafar Sainuddin seolah ingin berkata: Jangan lari dari proses. Jalani. Nikmati. Karena di ujung proses itulah, kehidupan yang berbeda itu menunggu.
3. Berjuang Untuk Rakyat Adalah Ibadah, Bukan Sekadar Politik.
” Bersama Rakyat Untuk Indonesia” bukan sekadar slogan di poster. Dalam kacamata filsafat, itu adalah jalan pengabdian. Ketika niat sudah diluruskan hanya karena Sang Pencipta, maka cacian tidak lagi melukai, dan pujian tidak lagi membuat sombong. Perjuangan menjadi tenang, karena yang dicari bukan jabatan, bukan tepuk tangan, tetapi ridha-Nya.

Pada akhirnya, pesan ini adalah pesan untuk kita semua yang sedang lelah berjuang:
Jika hari ini kamu merasa sendiri, jika hari ini kamu merasa tidak ada yang memahami perjuanganmu, jangan putus asa. Cukuplah Sang Pencipta menjadi temanmu.
Karena kehidupan yang berbeda tidak dimulai dari ramainya manusia yang menemanimu, tetapi dari sepinya hatimu yang akhirnya menemukan Tuhan di dalam proses itu.Ungkapnya.”(Red)” -“MZ.NA.
Laporan : Redaksi.


















