Mereka. Bukan sekadar menyapu halaman. Di tangan Kapolsek Bajeng AKP Abd. Wahab Maulana, S.H., kerja bakti berubah menjadi filsafat hidup, menjadi Green Policing, menjadi cara Polri menyapa rakyat tanpa jarak.
Gowa – Makassarglobal.com.-“Jumat pagi, 06 November 2026. Pukul 07.30 WITA. Matahari baru naik di atas Kecamatan Bajeng. Namun halaman Mako Polsek Bajeng sudah ramai. Bukan ramai oleh laporan kejahatan. Bukan ramai oleh sirine. Tapi ramai oleh bunyi sapu, bunyi cangkul, bunyi tawa anggota yang gotong royong.
Dipimpin langsung Kapolsek Bajeng AKP Abd. Wahab Maulana, S.H., didampingi Wakapolsek IPTU Muh. Hamsal Hamid, S.H., Kanit Reskrim IPDA Andi Dedi P, SE., Kanit Intel AIPTU Saharuddin, Kanit Samapta IPDA Syamsuddin, Kanit Binmas IPDA Syahrullah, S.H., dan seluruh personel, mereka melaksanakan Giat Korve.

Sasarannya bukan satu titik. Sepanjang Jalan Keamanan Kelurahan Kalebajeng, saluran air dan kanal di sekitar jembatan, hingga halaman Mako sendiri. Semua dibersihkan.
Jika dilihat sekilas, ini hanya kerja bakti biasa. Tapi jika dilihat dengan mata filsafat, ini adalah pelajaran besar tentang kehidupan.
1.FILSAFAT KEBERSIHAN: Lingkungan Bersih, Hati Ikut Bersih.
Orang bijak berkata, kebersihan itu bukan soal tempat, tapi soal cara berpikir. Orang yang peduli pada sampah di jalan, biasanya peduli pada sampah di hatinya. Orang yang mau membersihkan kanal yang kotor, biasanya mau membersihkan iri, dengki, dan kesombongan dari dirinya.

Polsek Bajeng sedang mengajarkan itu. Bahwa sebelum polisi membersihkan kejahatan di jalanan, polisi harus lebih dulu membersihkan lingkungannya sendiri. Karena bagaimana mungkin kita mengajak masyarakat hidup bersih, jika kantor polisi kita sendiri kotor?
2. GREEN POLICING: Polisi Bukan Hanya Penegak Hukum, Tapi Penjaga Bumi
Kegiatan ini bukan kebetulan. Ini adalah implementasi nyata program “GREEN POLICING Polresta Gowa”, sesuai arahan dan perintah Kapolresta Gowa Kombes Pol. Dr. Muh. Yusuf Usman, S.H., S.I.K., M.T., CIPA.
Dalam konsep Green Policing, polisi tidak hanya menjaga keamanan dengan senjata dan pasal. Polisi menjaga keamanan dengan menanam pohon, membersihkan saluran air, merawat rumah ibadah, dan merawat fasilitas umum. Karena lingkungan yang kotor akan melahirkan penyakit, banjir, konflik, dan akhirnya kejahatan. Lingkungan yang bersih melahirkan ketenangan, kesehatan, dan kedamaian.
Inilah polisi humanis yang sesungguhnya. Polisi yang hadir bukan saat ada masalah, tapi hadir sebelum masalah datang.
3. GOTONG ROYONG ADALAH DEMOKRASI YANG PALING JUJUR
Tidak ada pangkat dalam korve. Kapolsek menyapu, Wakapolsek mengangkat sampah, Kanit ikut membersihkan kanal. Di saat itulah, semua menjadi sama: manusia yang mencintai tanah kelahirannya.

Filsafat gotong royong mengajarkan, bahwa sebuah bangsa tidak akan besar hanya karena pemimpinnya hebat. Bangsa menjadi besar karena rakyatnya mau ikut memegang sapu, ikut menjaga, ikut merawat. Bajeng hari itu membuktikan, sinergi itu masih hidup.
Pukul 08.30 WITA, kegiatan selesai dalam keadaan aman, tertib, dan lancar. Halaman bersih. Kanal mengalir. Jalanan rapi. Tapi yang lebih penting, ada sesuatu yang tidak terlihat ikut bersih: citra Polri di mata masyarakat.
Jangan remehkan satu sapu. Karena dari satu sapu yang diayunkan dengan ikhlas oleh personel Polsek Bajeng, lahirlah pesan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal kecil, dari halaman sendiri, dari jalan sendiri, dari hati sendiri.
Jika semua instansi mau seperti Polsek Bajeng, jika semua masyarakat mau ikut memegang sapu, maka Gowa tidak hanya akan menjadi bersih, tapi akan menjadi suci. Bukan suci karena tidak pernah kotor, tapi suci karena setiap hari mau membersihkan diri.
Bersih Lingkungannya, Bersih Hatinya, Kuat Bangsanya, Pungkasnya.”- (Red)” MZ.NA.
Laporan : Redaksi


















