DARI TANAH YANG DIOLAH, LAHIR NEGERI YANG BERDAULAT: Dua Tahun Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian Menanam Harapan untuk Swasembada Pangan”

Dua Tahun Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian Menanam Harapan untuk Swasembada Pangan”

MKS-makassarglobal.com.-“ 8 November 2026 – Di sebuah pagi yang diawali senam bersama dan diakhiri pembagian doorprize, Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) Kelas I Makassar tidak sekadar merayakan ulang tahun. Ia merayakan sebuah keyakinan tua yang kembali ditemukan: bahwa peradaban tidak pernah dibangun dari gedung-gedung tinggi, melainkan dari tanah yang dicangkul, air yang dialirkan, dan tangan petani yang tak pernah lelah menanam harapan. Peringatan Hari Ulang Tahun ke-2 Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, dengan tema “Koordinasi dan Sinergi Antar Entitas dalam Mendukung Pelaksanaan Program Strategis Nasional di Bidang Lahan dan Irigasi Pertanian”, menjadi panggung filosofis tentang apa artinya membangun negeri, bahwa lahan bukan sekadar hamparan tanah, dan irigasi bukan sekadar saluran air, melainkan nadi kehidupan yang menghubungkan langit, bumi, dan manusia dalam satu kesatuan yang saling menghidupkan.

Filosofi itu terasa hidup dalam kehadiran para tamu yang datang, bukan sebagai penonton, tetapi sebagai sesama penanam. Panglima Komando Daerah Militer XIV/Hasanuddin, BRMP Sulawesi Selatan, BBPP Batangkaluku, Balai Besar Veteriner, BRMP Tanaman Serealia, Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan Bidang Asdatun, Dinas Pertanian Kota Makassar, Kabupaten Maros, dan Kabupaten Gowa, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa, Bank Mandiri Wilayah Sulawesi Selatan dan Cabang Pertanian Makassar, hingga petani kooperator Cetak Sawah Rakyat (CSR), optimasi lahan (Oplah), dan irigasi, serta Dharma Wanita Persatuan BPLIP Kelas I Makassar, duduk dalam satu tenda kebersamaan yang sama. Di sini, sinergi bukan lagi jargon birokrasi, melainkan sebuah laku: militer menjaga kedaulatan, penegak hukum menjaga keadilan, perbankan menjaga permodalan, akademisi menjaga ilmu, dan petani menjaga kehidupan itu sendiri. Seperti air irigasi yang hanya bermanfaat ketika ia mengalir dan dibagi, begitu pula kekuasaan dan pengetahuan hanya bermakna ketika ia tidak berhenti di satu tangan, melainkan dialirkan untuk menghidupkan banyak ladang.

Pelaksanaan secara luring dan daring melalui Zoom Meeting yang menghubungkan BPLIP Kelas I Makassar dengan BPLIP lainnya di berbagai wilayah menjadi metafora zaman yang paling jujur: jarak boleh memisahkan pulau, tetapi visi tidak boleh terpecah. Teknologi di sini bukan pengganti kebersamaan, melainkan jembatan yang memperpanjang jangkauan tangan. Rangkaian acara yang diawali senam bersama adalah pengingat bahwa pembangunan tidak bisa dilakukan oleh tubuh yang lelah dan jiwa yang terpisah, ia membutuhkan tubuh yang sehat dan hati yang bergerak bersama. Lalu prosesi pemotongan tumpeng hadir sebagai puncak simboliknya, tumpeng yang mengerucut ke langit adalah doa yang menjelma makanan, bahwa manusia yang makan dari bumi harus selalu menengadah dan bersyukur kepada yang memberi bumi. Dua tahun Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian bukanlah usia yang panjang, tetapi dalam filosofi petani, dua tahun adalah dua kali musim tanam, dua kali menunggu hujan, dua kali belajar sabar, dan dua kali membuktikan bahwa yang ditanam dengan niat baik tidak pernah sia-sia.

Dalam kesempatan itu, Kepala BPLIP Kelas I Makassar menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, dengan harapan di usia kedua ini Ditjen semakin berkembang, maju, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan sektor pertanian Indonesia, sejalan dengan tagline “Bergerak, Maju, Sejahtera”. Tiga kata itu, jika dibaca secara filosofis, adalah sebuah urutan kehidupan: Bergerak adalah menolak diam, Maju adalah menolak kembali, dan Sejahtera adalah menolak maju sendirian. Sebab pertanian yang hanya membuat satu orang kaya adalah bisnis, tetapi pertanian yang membuat satu bangsa kenyang adalah pengabdian. Lahan yang dioptimasi, sawah rakyat yang dicetak, dan irigasi yang dibangun bukan sekadar proyek, melainkan jalan bagi petani untuk berdiri tegak di tanahnya sendiri, tidak menjadi tamu di negeri yang subur ini. Di sinilah swasembada pangan menemukan maknanya yang paling dalam, bukan sekadar angka produksi, melainkan martabat sebuah bangsa yang mampu memberi makan anak-anaknya dari keringatnya sendiri.

Acara yang ditutup dengan pembagian doorprize kepada para peserta menjadi penutup yang sederhana namun penuh makna: bahwa perayaan yang sejati bukanlah tentang siapa yang paling besar hadiahnya, melainkan tentang siapa yang pulang dengan semangat yang lebih besar dari ketika ia datang. Melalui peringatan HUT ke-2 ini, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, instansi terkait, lembaga pendukung, dan para petani diharapkan semakin kuat dalam mendukung pelaksanaan program strategis nasional di bidang lahan dan irigasi pertanian, untuk mempercepat pembangunan infrastruktur pertanian, meningkatkan produktivitas lahan, dan memperkuat ketahanan pangan. Pada akhirnya, dari Makassar, pesan itu mengalir seperti air irigasi ke seluruh Indonesia: jika kita menjaga tanah dan air dengan setia, maka tanah dan air akan menjaga kita dengan setia pula, dan dari sanalah lahir Indonesia yang bergerak, maju, dan sejahtera, serta swasembada pangan yang berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia.'(Red)” MZ.NA.

Penulis: Zulkarnain Hemson
Editor. : Pimpinan Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *